Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 10 Des 2018 21:20 WIB

Sri Mulyani Beberkan Penyebab Banyak Perusahaan Bangkrut saat Krisis

Hendra Kusuma - detikFinance
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Eduardo Simorangkir Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bercerita pentingnya tata kelola sebuah perusahaan baik besar maupun menengah harus berbasis good corporate governance (GCG).

Hal itu diungkapkannya saat menjadi pembicara kunci dalam acara Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD) di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, Senin (10/12/2018).

Sri Mulyani mengatakan, perusahaan di Indonesia harus berlandaskan tata kelola yang baik. Mengingat ekonomi nasional yang terbuka dan mudah terdampak oleh perkembangan global.

Dengan perkembangan global ini, bagi perusahaan yang tidak memiliki tata kelola yang baik maka kinerja keuangannya pun akan terganggu.

"Indonesia termasuk negara yang beberapa kali terimbas kondisi global yang kemudian mempengaruhi kinerja korporasi di Indonesia," kata Sri Mulyani.


Dia mencontohkan, banyak perusahaan di Indonesia yang bangkrut pada saat krisis keuangan tahun 1997-1998. Hal itu dikarenakan tidak memiliki tata kelola yang baik. Sehingga dengan mudah terdampak.

Setelah krisis dahsyat bagi Indonesia itu, lanjut Sri Mulyani, tata kelola termasuk yang digiatkan. Baik pada pemerintahan maupun tata kelola korporasi. Pemerintah pun langsung menyusun UU yang menguatkan tata kelola sektor ekonomi dan keuangan seperti UU BPK, UU OJK, UU Krisis.

"Itu semua mengamanatkan pentingnya membangun pondasi dan tata kelola," jelas dia.

Pada kesempatan yang sama, Chairman IICD Sigit Pramono mengatakan bahwa perusahaan Indonesia masih jauh tertinggal di level Asia dalam hal GCG.

Dia menyebut, dari 50 perusahaan top di Asia, 14 dari Malaysia, 12 dari Thailand, 9 Singapura, Indonesia hanya 4 emiten. Hal ini bertolak belakang dengan kekuatan ekonomi nasional yang masuk 12 besar dunia dan terbesar di Asia Tenggara.

"Kita sadari masih punya pekerjaan rumah besar terkait tata kelola perusahaan publik," kata Sigit.

Menurut Sigit, di Malaysia dan Thailand untuk menjadi direksi atau komisaris perusahaan publik, itu harus ikut pelatihan-pelatihan atau ada syarat yang harus dipenuhi para calonnya.

"Di kita belum ada, mudah-mudahan tata kelola perusahaan di negeri ini bisa semakin baik," ujar dia.


Dalam acara ini juga IICD kembali mengadakan CG Conference & Award yang ke 10, dengan tema Bringing about Changes: Opportunities and Challenges for Directors. Acara ini juga sekaligus memperingati pengabdian IICD yang selama 18 tahun telah berkiprah dalam melakukan internalisasi good corporate governance di Indonesia, baik melalui kegiatan training, riset, konsultasi dan seminar CG di dalam dan luar negeri.

Seperti tahun lalu, pada tahun ini IICD melakukan penilaian terhadap 200 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, di mana emiten-emiten tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 100 emiten dengan market kapitalisasi terbesar (BigCap) dan 100 emiten dengan market kapitalisasi menengah (MidCap), yang didukung oleh 10 asesor dan 4 reviewer.

Dalam acara ini, IICD mengumumkan Top 50 emiten BigCap dan MidCap dengan praktek CG Terbaik tahun 2017 dan di antara Top 50 tersebut terdapat 24 emiten BigCap serta 23 emiten MidCap terbaik yang akan menerima penghargaan.


Berikut beberapa emiten BigCap terbaik dengan kategori best overall:

1. PT Aneka Tambang Tbk (Antam)

2. PT Bank CIMB Niaga Tbk

3. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN)



(hek/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed