Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 02 Jan 2019 16:18 WIB

Harga Beras Medium Naik Tipis ke Rp 9.798/Kg

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) per Desember 2018 mencatat rata-rata harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp 5.237 per kilogram (kg) atau naik 2,35% dibandingkan November. Kemudian untuk harga gabah di tingkat penggilingan tercatat Rp 5.330 per kg atau naik 2,27%.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan rata-rata harga gabah kering giling (GKG) di petani Rp 5.714,00 per kg atau naik 1,19% dan di tingkat penggilingan Rp 5.818 per kg atau naik 1,12%.

"Harga gabah kualitas rendah di tingkat petani Rp 4.837 per kg atau naik 2,08% dan di tingkat penggilingan Rp 4.948 per kg atau naik 2,21," kata Suhariyanto dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta Pusat, Rabu (2/1/2018).


Dia menyampaikan, pada Desember 2018, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp 9.818 per kg, naik sebesar 0,48% dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp 9.798 per kg, naik sebesar 2,03%. Sementara rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp 9.432 per kg, naik sebesar 0,07%.

Menurut data BPS dibandingkan dengan Desember 2017, rata-rata harga beras di penggilingan pada Desember 2018 untuk kualitas premium mengalami penurunan yaitu sebesar 0,43% sedangkan untuk kualitas medium dan rendah mengalami kenaikan masing-masing sebesar 2,86% dan 1,32%.

Selain harga gabah, BPS juga mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2018 naik sebesar 0,04% menjadi 103,16 jika dibandingkan November.
NTP menunjukkan nilai tukar dari produk-produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga, termasuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.


Kenaikan NTP Desember 2018 dipengaruhi oleh peningkatan subsektor tanaman pangan dan peternakan, masing-masing sebesar 0,75% dan 0,17%. Sedangkan yang mengalami penurunan yaitu subsektor hortikultura sebesar 0,02%, tanaman perkebunan rakyat 1,16%, dan perikanan 0,04%.

NTP Provinsi Maluku mengalami kenaikan tertinggi sebesar 0,81% dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Sulawesi Barat mengalami penurunan terbesar yakni 2,34% dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. (kil/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed