Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 30 Jan 2019 20:00 WIB

Di Depan Petinggi Polri, Sri Mulyani: Denyut Ekonomi Cukup Tinggi

Audrey Santoso - detikFinance
Foto: Audrey Santoso/detikcom Foto: Audrey Santoso/detikcom
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan tahun 2018 bukanlah tahun yang mudah untuk dilewati. Menurutnya, di 2018 ekonomi global cukup bergejolak hingga membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tertekan.

"Kebijakan moneter di AS yang menyebabkan suku bunga naik dan pada saat yang sama likuiditas dolar (AS) itu diperketat dan ini menekan nilai tukar rupiah kita," kata Sri Mulyani saat mengisi materi di Rapim Polri 2019, Gedung Tribrata, Jakarta Selatan, Rabu (30/1/2019).

Pada saat yang sama, kata Sri Mulyani, ekonomi Indonesia sedang menggeliat dengan pertumbuhan ekonomi yang menurutnya tinggi.

"Sehingga permintaan barang modal meningkat, sehingga kenaikan perekonomian kita mengakibatkan karam akan defisit ditambah dengan suku bunga yang meningkat dan capital outflow menyebabkan sedikit agak terjadi goyangan di perekonomian kita," jelasnya.


Caranya, dengan menaikkan suku bunga seperti yang dilakukan Bank Indonesia (BI), menahan impor, hingga membuat kebijakan agar mengurangi defisit migas.

"Karena itu tidak mudah tapi sebetulnya denyut ekonomi kita cukup tinggi. Jadi kita cari policy antara di satu sisi momentum pertumbuhan ekonomi kita tetap terjaga namun stabilitas harus tetap kuat. Itulah yang dilakukan BI menaikkan suku bunga 7 kali," katanya.

"Kita mencoba menahan impor, kita mencoba melakukan kebijakan untuk mengurangi defisit migas itu tujuannya untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan," sambungnya.

Sri Mulyani pun mengatakan bahwa pemerintah, BI, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan terus berupaya menjaga perekonomian dalam negeri.

"Dilakukan tindakan-tindakan untuk menstabilkan kembali perekonomian kita. Nilai tukar, inflasi tetap rendah, nilai tukar terdepresiasi tapi tidak beda jauh dari negara-negara lain. Bahkan kita mungkin kalau dibandingkan India, Turki, Argentina, Brasil, kita jauh lebih baik," ujarnya.

(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com