Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 05 Mar 2019 17:00 WIB

Putus Rantai Tengkulak, Petani & Peternak Bertemu Nego Harga Jagung

Erliana Riady - detikFinance
Foto: Erliana Riady/detikcom Foto: Erliana Riady/detikcom
Jakarta - Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita menfasilitasi bertemunya peternak petelur dengan petani jagung. Kedua pihak ini bertransaksi jagung hasil panen mereka, langsung di lahan pertanian.

Diharapkan dengan transaksi langsung antara peternak sebagai konsumen jagung, dan petani sebagai produsen, bisa memangkas mata rantai tengkulak. Transaksi langsung ini dilaksanakan di Desa Tulungrejo Kecamatan Wates Kabupaten Blitar, Selasa (5/3/2019).

"Saya tidak bisa mengintervensi harga. Saya datang ke sini, hanya memastikan peternak dapat harga jagung, sesuai kesepakatan langsung dengan petani. Kalau kedua pihak bertemu dan langsung disaksikan semua yang hadir disini, peternak senang, petani pun tidak gamang," ucap Ketut Diarmita di depan undangan yang hadir.


Di atas panggung, memang semua bisa menyaksikan proses tawar menawar antara peternak dengan petani. Pihak petani diwakili Ketua Gapoktan Sidomakmur, Siswanto, meminta peternak menaikkan harga yang semula disepakati Rp 3.500 per kg.

"Kami mohon harganya dinaikkan sedikit biar kami bisa merasakan untung," kata lelaki tua itu sambil tersenyum.

Permintaan petani ini langsung ditanggapi oleh Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Blitar Rofi Yasifun.

"Kami tadi sudah sepakat memenuhi permintaan peternak dan hasil kesepakatan, kami akan beli jagung panen ini seharga Rp 3.650 per kg. Kami akan ke sini bawa mobil angkutan, jadi petani tidak perlu mengeluarkan biaya transport lagi," jawab Rofi.


Dengan harga dari petani Rp 3.650 per kg, akan sampai di tangan peternak dikisaran harga Rp 4.000 per kg. Dana sebesar Rp 350 dipakai untuk biaya transport mengangkut dari lahan petani dan biaya mengeringkan jagung pipilan.

Harga transaksi jagung dari petani Blitar Rp 3.650 per kg tergolong tinggi, jika dibandingkan petani wilayah lain. Sebelumnya, peternak mendapat jagung harga Rp 4000 per kg dari pedagang jagung di Tuban dan Banyuwangi. Pengakuan pedagang, mereka mendapatkan jagung dari lahan petani di kisaran Rp 3.200-3.300 per kg.

"Inilah jiwa gotong royong yang kami bangun. Peternak dan petani sama-sama warga Blitar. Tidak ada salahnya peternak menyepakati harga lebih tinggi, untuk membantu perekonomian petani. Semoga gotong royong ini terus terjaga, hingga harga kebutuhan pokok juga tetap terjaga stabilitasnya," ujar Asisten Ekonomi Pembangunan Pemkab Blitar, Tuti Komariah yang ikut menyaksikan kesepakatan harga jagung kali ini.


Data Pemkab Blitar mencatat, sekitar 840 warga Kabupaten Blitar bergantung hidup dari sektor pertanian. Luas lahan pertanian di Blitar sekitar 150.000 hektare. Namun yang ditanami jagung hanya 53.000 hektare. Dengan hasil panen per tahun hanya 330.000 ton.

Sementara kebutuhan jagung untuk pakan ternak sekitar Rp 1.500 ton per hari. Atau sebanyak 540.000 ton per tahun. Sehingga, kekurangan stok jagung untuk pakan peternak di Blitar mencapai 210.000 ton per tahun. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com