Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 11 Apr 2019 19:01 WIB

Bicara Kinerja Ekonomi Jokowi, Ini Kata Pengusaha

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Sylke Febrina Laucereno Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta - Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memuji kinerja kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani menjelaskan saat ini kondisi perekonomian Indonesia dalam kondisi yang baik meskipun masih dibayangi gejolak ekonomi global.

"Dalam kondisi ini ada tekanan eksternal, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh 5,17%. Sebenarnya ini bisa lebih dari 5%," ujar Hariyadi dalam konferensi pers di kantor Apindo, Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Dia menjelaskan saat ini pemerintah Jokowi fokus dalam pembangunan infrastruktur. Hal ini dilakukan untuk mengejar ketertinggalan.

Hariyadi juga menyinggung tren perekonomian secara sektoral, salah satunya industri makanan dan minuman (mamin). Dari catatan Apindo, industri mamin mencatatkan pertumbuhan yang positif.

Pada tahun 2014 pertumbuhannya adalah 9,49% kemudian turun menjadi 7,54% pada 2015, selanjutnya kembali naik menjadi sebesar 8,33% pada tahun 2016, lalu tahun 2017 naik menjadi 9,23% dan tahun 2018 turun menjadi 7,91%.

"Kalo lihat di mamin trennya naik 2015-2017 naik sempat turun 2018 turun sebab CPO ada penurunan di sana. Kalo enggak ada gangguan di CPO bisa naik," kata dia.


Kemudian untuk sektor pariwisata berkembang signifikan karena dukungan pemerintah di antaranya melalui kebijakan visa on arrival.

Menurut Hariyadi sektor hotel dan restoran adalah penyumbang utama investasi di bidang pariwisata yang tumbuh rata-rata 20% sepanjang tahun 2013-2017. Lebih dari 70% investasi sektor pariwisata adalah hotel dan restoran.

Saat ini jumlah kamar hotel di Indonesia sebanyak 625.000 yang terdiri dari 315.000 kamar hotel berbintang dan 310.000 kamar hotel non bintang. Jumlah kamar ini adalah terbesar di kawasan ASEAN. Sedangkan jumlah restoran diperkirakan lebih dari 100.000 unit usaha yang juga terbesar di kawasan ASEAN

Dia menambahkan pemerintah telah melakukan kebijakan bebas visa untuk 169 negara pada tahun 2015. Kebijakan ini adalah termasuk yang terluas dalam cakupan negara penerima fasilitas bebas visa dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, sebagai contoh Thailand yang wismannya 30 juta orang hanya mengizinkan 57 negara bebas visa dan 21 negara dengan visa on arrival.


Peningkatan kunjungan wisman yang melebihi rata-rata pertumbuhan di kawasan ASEAN yaitu di 2015 10,41 juta naik 10,27%, 2016 11,52 juta naik 10,69%, 2017 14,2 juta naik 21,88%, 2018 15,81 juta naik 12,58%.

Peningkatan investasi di sektor hotel dan restoran yaitu pada tahun 2015- Rp 12,01 triliun, 2016 Rp 13,7 triliun, 2017 Rp 19,1 triliun dan semester 1 tahun 2018 sebesar Rp 7,9 triliun. Sehingga total investasi mencapai Rp 52,71 triliun atau 78,6% dari total investasi sector Pariwisata sebesar 67,04%.

"Hal ini menunjukkan pemerintah berhasil menumbuhkan iklim investasi yang baik," ujar dia.

Pembangunan infrastruktur 11 bandara seperti Silangit di Tapanuli Utara, Letung di Kep Anambas, Namniwel di Maluku, Miangas di Sulawesi Utara, Morowali di Sulawesi Tengah, Werur di Tambraw Papua Barat, Maratua di Kalimantan Utara, Koroway Batu di Tanah Merah Papua, Kertajadi di Majalengka Jawa Barat, Aji Pangeran Tumenggung Pranoto di Samarinda Kalimantan Timur, dan Tebelian di Sintang Kalimantan Barat serta pembangunan jalan Trans Sumatra, Trans Jawa dan ruas jalan lainnya diberbagai daerah. Pembangunan infrastruktur tersebut membuka semakin luas potensi pariwisata yang dapat dikembangkan (ara/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com