CONTINUE TO SITE >

Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 17 Apr 2019 15:14 WIB

Ini Oleh-oleh Sri Mulyani dari Washington

Hendra Kusuma - detikFinance
Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Foto: Hendra Kusuma/detikFinance Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Foto: Hendra Kusuma/detikFinance
Jakarta - Ketidakpastian ekonomi global masih menjadi bayang-bayang yang menyelimuti negara berkembang. Hal itu dibahas dalam pertemuan musim semi (spring meeting) IMF-WB yang dihadiri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Washington DC pada 8-13 April lalu.

Ketidakpastian global dimulai dari International Monetary Fund (IMF) yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,3%. Hal itu tidak terlepas dari perlemahan ekonomi negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan juga China.

"Jadi kita juga harus melihat kondisi perlemahan ekonomi global yang cukup drastis dibandingkan proyeksi awal (3,9%) direvisi turun 3,5% sekarang 3,3%. Artinya tantangan ekstrenal kita," kata Sri Mulyani di komplek Mandar Sektor 3A, Bintaro Jaya, Tangsel, Banten, Rabu (17/4/2019).

Dengan kondisi pelemahan ekonomi global, para pembuat kebinakan harus melakukan penyesuaian dengan apa yang diproyeksi oleh Dana Moneter Internasional alias IMF. Bahkan, pemerintah juha harus menanggapi perubahan kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral AS yakni The Fed yang lebih sabar mengkaji pelemahan ekonomi dunia ini.

Bahkan, The Fed diprediksi tidak menaikkan suku bunga yang memberikan dampak besar terhadap ekonomi negara berkembang seperti Indonesia.

"Ini artinya kenaikan suku bunga yang mengalami guncangan di emerging market tidak akan terjadi atau akan berhenti. Ini bagus untuk negara kita.

"Ini menyebabkan kekhawatiran perlemahan ini bisa ditangani secara cukup kuat karena space policy pada negara maju dan negara emerging itu terbatas," ujar dia.


Khusus untuk Indonesia sendiri, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini laju pertumbuhan ekonomi nasional dihadapkan dengan tantangan yang berbeda dari tahun 2018.

Menurut wanita yang akrab disapa Ani ini, Indonesia masih memiliki ruang kebijakan fiskal dan moneter dalam menyesuaikan kondisi ketidakpastian global.

Jadi, kata Sri Mulyani, meski kenaikan suku bunga The Fed tidak berlanjut, lalu perang dagang antara China dengan AS akan menemui titik terang, namun hal tersebut masih menyisakan ketidakpastian global yang harus diwaspadi.

"Jadi ini ada positifnya dan harus hati-hati," ungkap dia.



Ini Oleh-oleh Sri Mulyani dari Washington
(hek/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed