Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 16 Mei 2019 09:37 WIB

Imbas Kecelakaan 737 Max 8, Boeing Tak Dapat Pesanan di April

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Foto: Stephen Brashear/Getty Images. Foto: Stephen Brashear/Getty Images.
Jakarta - Perusahaan pembuat pesawat Amerika Serikat, Boeing tidak mendapatkan pesanan sama sekali di bulan April untuk semua jenis pesawat, mulai dari 787 Dreamliner, 737 Max, maupun 777.

Diketahui hal itu terjadi karena dampak dari dua kecelakaan fatal Boeing 737 Max. Kecelakaan melibatkan Ethiopian Airlines dan Lion Air dalam waktu yang berdekatan. Kecelakaan itu mengakibatkan pesawat dikandangkan selama beberapa waktu hingga penyelidikan selesai.

Padahal, pada April 2018 Boeing menerima 76 pesanan pesawat baru. Terakhir menerima pesanan terakhir pada Maret, yakni dari maskapai Lufthansa sebanyak 20 pesawat 787 pada 15 Maret dan British Airways memesan 18 pesawat 777X pada 22 Maret.

Selain itu, seperti dikutip CNN pada Kamis (16/5/2019) Boeing juga mencatatkan empat 737 Max yang sebelumnya telah dijual ke Boeing Capital, ternyata pesawat itu dipindahkan ke pihak lain yang tidak diketahui. Untuk itu Boeing tidak menganggap hal tersebut sebagai pesanan baru.

Analis kredit untuk sektor transportasi di Standard & Poor's, Philip Baggaley mengatakan, masalah keamanan yang menimpa 737 Max menjadi alasan turunnya pesanan jenis lainnya yang tidak memiliki masalah. Bahkan Baggaley memprediksi bahwa Boeing bisa saja menurunkan harga jual pesawatnya agar tetap bertahan.

"Jika ternyata Boeing dapat mengakomodasi konsumen atas 737 Max, mungkin tidak akan menjadi kompensasi langsung tunai," ujar Baggaley.


"Mungkin harga yang lebih rendah untuk pesanan di masa depan, atau perubahan lain dalam pesanan itu. Mungkin ada hal-hal yang terjadi di balik layar yang pada dasarnya bisa berubah menjadi pesanan," tambah Baggaley.

Beberapa petinggi maskapai, termasuk Norwegian Air dan United Airlines (UAL) berharap untuk mencapai kesepakatan dengan Boeing mengenai kompensasi karena operasional 737 Max yang dihentikan.

Analis aerospace untuk Teal Group, Richard Aboulafia mengatakan, Boeing memiliki kuartal pertama dengan bisnis yang cukup masif sebelum terjadinya kecelakaan Ethiopian Airlines. Namun, setelah insiden tersebut pesanan Boeing menukik tajam.

"Boeing memiliki kuartal pertama yang masif dalam hal pesanan (sebelum jatuhnya Ethiopian Airlines) dan mereka mengalahkan Airbus," ujar Aboulafia.

Seri 737 Max merupakan pesawat terlaris Boeing dengan pesanan mencapai 5.000 unit. Laba Boeing turun 21% pada kuartal terakhir karena 737 Max dilarang terbang.

Boeing telah menghabiskan setidaknya US$ 1 miliar atau setara Rp 14 triliun, untuk memperbaiki perangkat lunak 737 Max. Diharapkan perbaikan itu dapat membuat pesawat tersebut kembali mengudara.

(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com