Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 16 Mei 2019 18:50 WIB

Target IPC di 2024: Tak Cukup Hanya Jadi Operator Pelabuhan

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation berencana merombak bisnis kepelabuhannya, tak hanya sebagai operator pelabuhan namun mencakup semua layanan laut dan darat atau trade fasilitator. Implementasinya, perseroan bakal menambah lebih banyak lagi layanan di luar jasa kepelabuhan.

""Sejak 2016 kami melakukan standarisasi pelabuhan dengan menitikberatkan pengembangan fisik serta digitalisasi, sehingga layanan dan operasional lebih cepat dan mudah. IPC terus melakukan transformasi untuk menjadi trade facilitator," ujar Direktur Utama IPC, Elvyn G. Masassya, di Hotel Hilton, Jakarta, Kamis (16/5/2019).

Trade facilitator, sambung Elyn, dimulai dengan mengubah hampir seluruh layanan jadi serba digital. Digital bukan hanya dalam konteks pelayanan di terminal tapi melingkupi seluruh kegiatan pelabuhan secara korporasi, baik dari sisi laut maupun darat.

Di sisi laut, misalnya, IPC menyiapkan Marine Operation System (MOS), Vessel Management System (VMS) dan Vessel Traffic System (VTS), untuk memonitor dan memantau pergerakan kapal sejak mereka berangkat dari pelabuhan awal sampai tiba di Pelabuhan Tanjung Priok.

Adapun di sisi darat, IPC telah memiliki Terminal Operating System (TOS) dan Non Peti Kemas Terminal Operating System (NPKTOS) serta Auto Tally untuk perhitungan kontainer. Selain itu, IPC juga menyiapkan Container Freight Station (CFS), Buffer Area, DO Online, Auto Gate, Car Terminal Operating System, Reception Facility serta Truck Identification untuk mengidentifikasi pengemudi dan tujuan pengiriman barang.


mencatatkan kinerja apik sepanjang kuartal I 2019. Operator Pelabuhan Tanjung Priok ini bisa membukukan laba Rp 757,9 miliar. Angka ini naik 50,8% dibandingkan kuartal I 2018 yang sebesar Rp 500 miliar.

Soal kinerja keuangan, Elvyn mengungkapkan perseroan bisa mengoleksi pendapatan usaha sebesar Rp 2,74 triliun atau naik 5,53% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 2,6 triliun.

"Sejak 2016 kami melakukan standarisasi pelabuhan dengan menitikberatkan pengembangan fisik serta digitalisasi, sehingga layanan dan operasional lebih cepat dan mudah. IPC terus melakukan transformasi untuk menjadi trade facilitator," terangnya.

Meski demikian, lanjut Elvyn, EBITDA turun 0,9%, dari Rp 1,09 triliun menjadi Rp 1,08 triliun. Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) juga mengalami sedikit kenaikan, dari 65,58% menjadi 67,48%.

Sedangkan arus (throughput) petikemas kuartal I 2019 tercatat 1,83 juta TEUs. Angka ini sama dengan kuartal I 2018. Untuk arus non peti kemas, IPC mencatat kenaikan sebesar 5,53% dari 13,36 juta ton menjadi 14,10 juta Ton.


Implementasi Trilogi Maritim atau jaringan pelabuhan yang terintegrasi (integrated port network) diyakini akan menurunkan biaya logistik nasional. Konsep ini sejalan dengan rencana pemerintah untuk menurunkan biaya logistik sebesar 4,9% dalam tiga tahun ke depan.

Ada beberapa tantangan untuk menurunkan biaya logistik nasional, yakni belum optimalnya jaringan pelayaran, belum adanya standarisasi pelabuhan, serta masih tingginya inefisiensi transportasi darat. Dengan Trilogi Maritim, hambatan-hambatan itu bisa ditekan.

"Tahun 2018, biaya logistik nasional sebesar 23,6% dari total produk domestik bruto. Kami yakin dengan Trilogi Maritim biaya logistik turun menjadi 18,7% pada tahun 2022," katanya.

Konsep Trilogi Maritim, sambung Elvyn, mencakup tiga pilar, yaitu standarisasi pelabuhan, aliansi pelayaran dan industri yang terakses baik dengan pelabuhan. Dalam hal standarisasi pelabuhan, perlu ada kualitas standar, baik fisik maupun teknologi yang digunakan.

"Sejak 2016 kami melakukan standarisasi pelabuhan dengan menitikberatkan pengembangan fisik serta digitalisasi, sehingga layanan dan operasional lebih cepat dan mudah. IPC terus melakukan transformasi untuk menjadi trade facilitator," ujar Elvyn.


Dia menyinggung kesiapan Pelabuhan Tanjung Priok menjadi pelabuhan hub terbesar di Asia Tenggara. Dengan layanan direct call, ekspor atau impor tak perlu lagi mampir ke Singapura.

"IPC telah membuka layanan pelayaran langsung (direct call services) ke Amerika, Eropa, Australia dan Intra Asia. IPC terus mengembangkan layanan direct call dari Tanjung Priok, dan yang terbaru adalah melalui penguatan kerja sama dengan Pelabuhan Ningbo, Cina, akhir April lalu. Tanpa transhipment di Singapura, biaya jasa kepelabuhanan dan jasa tambang (freight cost) terpangkas hingga 40 persen," ungkapnya.

Sementara itu, terkait kesiapan arus mudik lebaran 2019, Elvyn memastikan bahwa semua pelabuhan yang dikelola IPC siap menyambut kedatangan dan keberangkatan para pemudik. Khusus di Pelabuhan Tanjung Priok, IPC memberikan fasilitas mudik gratis untuk 2.000 pemudik tujuan Batam dan Surabaya dengan kapal laut.

"Selain itu, kami memfasilitasi sekitar 22 ribu pemudik tujuan Jawa dan Sumatera. IPC menyiapkan 406 bus berstandar pariwisata dengan tujuan beberapa kota utama di Jawa dan Sumatera. Mudik gratis bersama IPC Grup 2019 juga memberikan layanan angkutan balik bagi pemudik yang hendak kembali ke Jakarta setelah berlebaran," jelas Elvyn. (mpr/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com