Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 17 Mei 2019 18:12 WIB

Perang Dagang AS China Tak Kunjung Usai, Yuan 'Digoncang'

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Dok. Thinkstock Foto: Dok. Thinkstock
Jakarta - Bank sentral China, People bank of China melakukan intervensi untuk menghentikan pelemahan yuan beberapa waktu terakhir. Langkah tersebut dilakukan agar kepercayaan investor terhadap mata uang ini bisa membaik.

"Saat ini, mereka (POBC) tak akan membuat mata uang jadi 7 yuan per dolar AS," tulis sumber dikutip dari Reuters, Jumat (17/6/2019).

Memang, sejak akhir tahun lalu, yuan mengalami pelemahan dan angka 7 yuan per dolar AS merupakan yang terendah sejak krisis keuangan 2008.

Pelemahan yuan terhadap dolar AS terjadi karena kesepakatan terkait ketegangan dagang antara China dan AS tak menemui titik temu. Hal ini terjadi karena AS dan China saling memberlakukan tarif impor di kedua negara.



China membutuhkan kestabilan mata uang untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Hal ini juga untuk mendorong investasi dan menarik lebih banyak aliran masuk portofolio dan obligasi di dalam negeri.

Kepala riset BNP Paribas Asset Management London, Bryan Carter mengatakan China tak akan melakukan lagi devaluasi mata uangnya seperti yang dilakukan pada 2015 lalu.

"Hal itu (devaluasi) akan mengguncang kepercayaan di pasar domestik," jelas dia.

Pada Jumat yuan melemah ke level 6,9 per dolar AS dari sebelum pengenaan tarif yang dilakukan oleh Trump 6,8 per dolar AS.

(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com