Fenomena Inang-inang, Si Penjaja Uang Receh Lebaran

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Kamis, 30 Mei 2019 02:48 WIB
Fenomena Inang-inang, Si Penjaja Uang Receh Lebaran
Foto: Fadhly Fauzi Rachman

Bisnis penukaran uang ini bukan tak menggiurkan. Meski harus panas-panasan di pinggir jalan, terkena debu dan polusi ibu kota, namun untungnya ternyata lumayan juga.

Tina contohnya, penjaja penukaran uang receh yang berlokasi di kawasan Kota Tua, Jakarta ini sudah berhasil menjual Rp 3 juta uang recehnya dalam waktu satu jam saja. Padahal modal yang dia butuhkan praktis cuma Rp 60 ribu saja.

Untuk Rp 1 juta, Tina bisa menukarkannya dengan menambahkan Rp 20.000 saja kepada 'bos' yang menyediakan stok uang pecahan. Jika uang yang ditukarkan Rp 100.000 dihargai 110.000, maka Tina bisa berhasil mengeruk keuntungan Rp 100.000 dari modal Rp 20.000 untuk membeli uang pecahan Rp 100.000 tadi.

Sementara Irma, mengaku bisa menjual uang hingga Rp 100 juta pada momen Lebaran. Dari situ, untung yang dia peroleh bisa mencapai Rp 10 juta.

"Bisa segitu (Rp 10 juta," katanya.

Namun demikian, para 'inang-inang' ini biasanya harus berjuang lebih keras semakin dekat ke Lebaran karena biasanya harga beli uang yang ditukar semakin tinggi.

"Sekarang sudah Rp 35.000 (fee beli Rp 1 juta) karena besok sudah libur. Nanti hari senin bisa lebih mahal lagi. Tergantung keluarnya dari bos-bos," katanya.

Bisnis penukaran uang juga semakin sengit lantaran titik penukaran uang kian banyak disediakan dari tahun ke tahun. Tahun ini saja, BI menyiapkan layanan penukaran uang di 2.895 titik di seluruh wilayah di Indonesia, termasuk di daerah terdepan, terluar dan terpencil. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 1.776 titik.

Namun tetap saja penukaran uang di 'inang-inang' punya keunggulan lebih. Selain nominal uang yang ditukar tak punya batasa, menukar di 'inang-inang' juga tak perlu antre dan terhalang waktu.

'Inang-inang' akan terus 'menjual' uangnya hingga Lebaran nanti sampai stoknya habis sementara bank punya masa tertentu. "Kalau masih ada barang ya kita terus," kata Irma.