Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 13 Jun 2019 16:03 WIB

RI Siap Kirim Dokumen Fasilitas Bea Masuk Ke AS

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Lamhot Aritonang Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengungkapkan proses penyesuaian produk Indonesia untuk tetap menerima fasilitas pengurangan/pembebasan bea masuk melalui skema generalized system of preferences (GSP) akan rampung Juni tahun ini.

Ketentuan tersebut diberlakukan oleh pemerintahan Amerika Serikat (AS) terhadap seluruh barang impor yang masuk ke negaranya.

"hampir selesai. Beberapa (belum), ada itu national payment gateway dan itu sudah clear. Juni ini bisa dipenuhi semuanya," kata pria yang akrab disapa Enggar tersebut di Komplek Istana, Jakarta, Kamis (13/6/2019).

Kehadiran Enggar di Istana dalam rangka rapat terbatas (ratas) tertutup mengenai perang dagang antara AS dengan China. Turut hadir juga Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri BUMN Rini Soemarno, Gubernur BI Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso.

Penyesuaian proses GSP yang rampung Juni, maksud Enggar pemerintah Indonesia telah menyelesaikan persyaratan yang ditetapkan AS. Sehingga, pada bulan itu bisa diajukan.

Sejatinya, keputusan akhir riview ini bisa dirilis oleh Gedung Putih pada medio Oktober-November tahun ini. Adapula, negara yang tengah dievaluasi hanya tinggal Indonesia saja. Sedangkan India dan Kazakhstan diputuskan tak lagi mendapat fasilitas GSP.


Isu yang menjadi fokus AS adalah mengenai hak kekayaan intelektual (HKI), kebijakan gerban pembayaran nasional/national payment gateway (GPN), dan kebijakan soal penempatan pusat data (data center localization).

Menurut Enggar, ketiga isu tersebut sudah dipenuhi sesuai ketentuan yang ditetapkan negeri Paman Sam. "Sesuai dengan komitmen. Persyaratan sudah dipenuhi semua," ujar dia.

Selain itu, Enggar mengaku mendapat arahan dari Presiden Jokowi untuk memaksimalkan potensi di balik tegangnya perang dagang AS dengan China

Di balik ketegangan perang dagang Indonesia bisa mengambil keuntungan menjadi eksportir produk asal China yang terkena tarif bea masuk tinggi dari AS.

"Namun mereka selalu fair, free, dan reciprocal dalam trade. Nah kita juga harus melihat apa-apa saja yang bisa kita beli dari sana. Karena kalau kita hanya semata-mata ekspor ke AS, terjadi defisit yang makin melebar," ujar dia.

Saat ini, lanjut Enggar, kondisi neraca perdagangan AS kepada Indonesia mengalami defisit US$ 12,6 miliar. Sehingga hal tersebut akan diperbaiki dengan menguntungkan kedua belah pihak agar fasilitas GSP Indonesia tidak dicabut.

"Kita dapat arahan dari pak presiden bagaimana menyikapi itu baik dari sisi dalam tanda kutip, ancaman dari sisi pertumbuhan ekonomi (PE), bagaimana dampak dan kesiapan, sekaligus melihat peluangnya," ungkap dia.


RI Siap Kirim Dokumen Fasilitas Bea Masuk Ke AS
(hek/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com