Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 16 Jun 2019 15:36 WIB

Ada Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Penumpang Bus Bisa Hilang?

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Dok. KCIC Foto: Dok. KCIC
Jakarta - Beroperasinya Kereta Cepat Jakarta-Bandung (JKT-BDG) pada 2021 menambah deret angkutan massal yang menghubungkan Jakarta-Bandung. Lantas, apakah keberadaannya nanti bakal mengancam bisnis transportasi darat yaitu bus?

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, kereta cepat dan bus memiliki pangsa pasar yang berbeda. Harga tiket kereta cepat diusulkan oleh pihak kontraktor mulai dari US$ 16 atau setara Rp 227.200 mengacu kurs saat ini, Rp 14.200 per dolar AS.

Menurutnya, dengan asumsi harga tersebut tidak akan mengganggu bisnis bus. Pasalnya bus untuk kelas menengah ke bawah dengan harga yang lebih murah. Lagipula tidak semua daerah dijangkau oleh kereta cepat.

"Ya saya kira kalau bus nggak lah (kehilangan penumpang), bus itu kan beda, segmennya beda, kalau bus itu mereka menengah ke bawah biasanya, dan yang dituju ke mana daerahnya," kata dia kepada detikFinance, Jakarta, Minggu (16/6/2019).


Justru nantinya pengguna kendaraan pribadi yang bakal beralih ke kereta cepat. Pasalnya kondisi di tol akses Jakarta-Bandung saat ini kerap macet hingga butuh waktu berjam-jam. Sementara kereta cepat menawarkan kecepatan waktu.

"Sebenarnya kalau memindahkan itu bukan sesama angkutan umum, tapi kendaraan pribadi itu," sebutnya.


Cuma yang jadi tantangan adalah ketika Tol Jakarta-Cikampek Elevated sudah rampung dan beroperasi. Jika tol tersebut membuat akses Jakarta-Bandung lebih lancar, bisa-bisa malah kereta cepat tidak laku.

"Sekarang Jakarta-Bandung tol makin macet ya laku, tolnya nggak macet ya nggak (laku) ya, orang Indonesia kan gitu. Sensitivitas tarif tolnya yang nanti dilihat," tambahnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com