Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 20 Jun 2019 18:08 WIB

Dampak Perang Dagang untuk China

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Geoff Burke-USA TODAY Sports Foto: Geoff Burke-USA TODAY Sports
Jakarta -
China kembali berseteru dengan Amerika Serikat (AS). Setelah sebelumnya mereda, perang dagang antar kedua negara ekonomi besar itu kembali memanas.
Pihak China mengaku sebenarnya tidak ingin kondisi itu terjadi. Namun negara dengan penduduk paling banyak di dunia itu menegaskan tidak takut menghadapi ancaman-ancaman yang diluncurkan Presiden AS Donald Trump.
Lalu seberapa besar dampak perang dagang bagi perekonomian China sebenarnya?
Duta Besar China untuk Indonesia Xiao Qian menjelaskan, ekonomi China merupakan salah satu ekonomi terbesar di dunia. Meski begitu perang dagang juga berdampak pertumbuhan ekonomi Tiongkok.
"Dari Maret 2018, gesekan perdagangan Tiongkok-AS telah berlangsung satu tahun lebih. Gesekan perdagangan ini memang menimbulkan dampak tertentu bagi pertumbuhan ekonomi Tiongkok, tetapi secara keseluruhan dampaknya masih terkendali," ujarnya dalam wawancara khusus dengan detikFinance beberapa waktu yang lalu.

Meski begitu menurutnya ekonomi Tiongkok masih tetap bergairah. PDB Tiongkok tahun lalu bertumbuh 6,6% dan ekspor bertumbuh 9,9%. Lalu pada kuartal-I 2019, pertumbuhan PDB Tiongkok sebesar 6,4% dan pertumbuhan ekspor sebesar 1,4%.
Xiao menambahkan dari Januari hingga April 2019, nilai investasi asing yang terealisasi di Tiongkok mengalami pertumbuhan sebesar 6,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Fakta ini membuktikan bahwa perekonomian Tiongkok memiliki ketahanan yang kuat, potensi yang besar, energi yang tinggi, serta kemampuan yang semakin mumpuni dalam menghadapi serangan dari luar. Perekonomian Tiongkok memiliki momentum positif untuk mempertahankan pertumbuhan yang sehat. Prospek perekonomian Tiongkok sangat cerah," tambahnya.
Menurut Xiao perang dagang yang kembali memanas diakibatkan adanya sejumlah oknum yang keliru menilai situasi, dan meremehkan keputusan dan tekad Tiongkok untuk membela hak dan kepentingan nasionalnya sendiri.
Mereka, lanjutnya, terus-menerus menuntut harga yang tinggi, dan ketika Tiongkok menolak untuk memenuhi tuntutan mereka, mereka kemudian mengancam menggunakan kenaikan tarif impor.
"Tiongkok senantiasa menaati komitmennya, dan justru AS yang sering berubah-ubah posisi. Pada Mei 2018, Tiongkok dan AS telah mencapai kesepakatan dalam menyelesaikan masalah perdagangan, dan kesepakatan ini telah dipublikasikan sebagai pernyataan bersama di Washington. Namun hanya berselang beberapa hari kemudian, AS sudah melanggar kesepakatan ini," ujarnya.

Sebenarnya pada Desember 2018, kedua negara telah mencapai kesepakatan dalam hal angka pembelian dari Tiongkok terhadap produk AS. Akan tetapi dalam perundingan berikutnya AS justru dengan seenaknya menaikkan harga.
"Tuduhan mundur dari posisi atau mengkhianati komitmen tentu tidak bisa dilimpahkan kepada Tiongkok. Sikap AS yang menuduh bahwa Tiongkok telah mundur dari posisi dalam perundingan adalah sikap yang tidak bertanggung jawab, dan tuduhan ini adalah fitnah," tegasnya.


(das/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com