Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 15 Jul 2019 14:20 WIB

Genjot Kemampuan SDM, Kementan Jalankan Standardisasi Profesi Petani

Nurcholis Maarif - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Setelah pembangunan infrastruktur, Kementerian Pertanian (Kementan) akan fokus mengembangkan sumber daya manusia (SDM) untuk mencapai ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Salah satunya melalui wacana standardisasi profesi petani. Menurut Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri, SDM merupakan aspek strategis dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

"Setelah pembangunan inftrastruktur, tekad pemerintah adalah menjadikan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas utama," ujar Kuntoro dalam keterangan tertulis, Senin (15/7/2019).

Untuk itu, kata Kuntoro, pemerintah terus menyelenggarakan berbagai kegiatan bimbingan teknis, serta mendistribusikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk membantu meningkatkan produktivitas petani. Menurut Kuntoro, pola ini akan mempermudah generasi muda supaya bisa mengendalikan mesin tanpa harus berkubang dengan lumpur. Di sisi lain, upaya ini secara perlahan telah membuka mata banyak orang terhadap profesi petani.

Sementara itu, Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementan, Erizal Jamal, menjelaskan ke depan pihaknya berharap akan membangun standardisasi profesi petani supaya sejajar dengan profesi lain. Patokan standardisasi ini utamanya berkaitan dengan produktivitas dan pendapatan yang diterima. Di samping itu, profesi ini juga akan menjadi acuan utama dalam membuat program dan kegiatan pendidikan, penyuluhan, dan pelatihan.


"Upaya ini telah mempunyai landasan hukum dengan adanya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Program ini yang nantinya membangkitkan potensi petani bersama lahannya," katanya.

Erizal juga mengatakan bahwa dalam tataran praktis, upaya ini dilakukan dalam bentuk pengembangan korporasi petani yang dilaksanakan bersama Peraturan Menteri Pertanian Nomor 18/Permentan/RC.040/4/2018 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian Berbasis Korporasi Petani. Implementasi mekanisasi ini salah satunya adalah melalui lahirnya program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) yang telah menggunakan korporasi agar dapat memaksimalkan potensi yang ada.

"Beberapa waktu lalu citra petani masih digambarkan suram, yaitu kelompok produktivitas rendah, bekerja di tempat yang kotor serta sangat lekat dengan kemiskinan. Tapi melalui mekanisasi dan standardisasi semuanya berubah menjadi lebih keren. Seperti kata Pak Menteri, bahwa pekerjaan sebagai petani adalah profesi mulia yang bisa membawa pelakunya hidup sejahtera. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar orang terkaya di Indonesia basis usahanya adalah pertanian," ujar Erizal.


Adapun Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, Luthfi Fatah mendukung upaya pemerintah dalam mentransformasi pertanian tradisional menjadi pertanian modern. Menurutnya, langkah tersebut sangat tepat untuk mempengaruhi minat anak muda agar terjun langsung ke sektor pertanian.

"Bonus demografi ini adalah peluang yang sangat bagus jika dibarengi dengan pengelolaan sumber daya manusianya. Dalam hal ini, programnya Pak Menteri soal mekanisasi sangat bagus dan membuka mata anak muda," katanya.

Meski demikian, Luthfi menambahkan bahwa mekanisasi yang ada harus diikuti dengan inovasi baru untuk membangkitkan jiwa usaha. Berdasarkan riset yang dikembangkannya, Lutfi menemukan jiwa usaha anak muda sangat kurang sehingga harus dikembangkan agar bangkit.


Genjot Kemampuan SDM, Kementan Jalankan Standardisasi Profesi Petani


Simak Video "Sektor Pertanian Amerika Terpukul Perang Dagang China-AS"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com