Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 17 Jul 2019 16:30 WIB

Jokowi Kurangi Pajak Demi Investasi, Faisal Basri: Diagnosanya Salah

Danang Sugianto - detikFinance
Faisal Basri/Foto: Grandyos Zafna Faisal Basri/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berjanji akan memberikan diskon pajak besar-besaran kepada dunia usaha. Syaratnya, pelaku usaha harus investasi dalam bidang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) serta penelitian.

Insentif ini dimuat dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 45 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010. Dalam aturan ini, Jokowi memberikan diskon paling tinggi hingga 300%.

Namun menurut Pengamat Ekonomi Faisal Basri kebijakan tersebut salah diagnosa. Maksud pemerintah ingin mengembangkan industri sambil meningkatkan kualitas SDM juga investasi. Faisal menjelaskan, dari sisi investasi justru tidak ada masalah.

"Investasi kita 32,3% dari PDB. Pertumbuhan kredit perbankan 12 bulan terakhir double digit terus, 11%. Investasi asing 2018 itu kita nomer 16 terbesar di dunia. Nggak ada yang salah dengan investasi. Jadi diagnosisnya yang takut salah," ujarnya dalam acara diskusi di Hotel Millenium, Jakarta, Rabu (17/7/2019).



Memang pertumbuhan investasi lebih besar ke sektor jasa dibanding industri, hampir dua kali lipatnya. Namun menurut Faisal pemerintah cukup mendorong pertumbuhan industri dengan tidak memaksa mereka mengeluarkan uang untuk berinvestasi di bidang SDM.

"Soal tenaga kerja kurang kan tidak bisa gampang dibikin universitas begitu saja. Ya ambil saja dari India. Di Indonesia juga restriksinya tinggi sekali. Kalau di Malaysia misalnya 1 pekerja asing berbanding 17 pekerja lokal. Di Indonesia 1 pekerja asing berbanding 2 ribu pekerja lokal," tambahnya.

Lagi pula, lanjut Faisal, pertumbuhan di sektor jasa juga menarik minat dari pekerja. Banyak dari kaum pekerja muda yang jauh lebih memilih bekerja di sektor jasa seperti startup misalnya.

"Jumlah pekerja industri penghasil barang hanya 45%. Sisanya di sektor jasa. Anak-anak muda berbondong-bondong menjadi pengacara, bekerja di startup, berdagang. Ya wajar, mereka mau kaya. Anak-anak muda enggak mau lagi kerja di industri kok dipaksa," ucapnya.

(das/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com