Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 07 Sep 2019 14:15 WIB

Sesungguhnya Indonesia 'Cantik' di Mata Investor, Tapi ...

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Tim Infografis: Andhika Akbarayansyah Foto: Tim Infografis: Andhika Akbarayansyah
Jakarta - Bank Dunia memaparkan kepada pemerintah terkait potensi dan risiko perekonomian Indonesia ke depan. Dalam paparan, Bank Dunia menyebut perekonomian Indonesia akan mengalami penurunan akibat kurangnya produktivitas dan pertumbuhan tenaga kerja.

Selain itu, Bank Dunia juga menyebut jika Indonesia tak dilirik oleh investor karena lamanya proses perizinan dan investor lebih memilih negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia hingga Filipina. Hal ini menyebabkan foreign direct investment (FDI) sulit masuk ke Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengungkapkan investasi asing dalam bentuk FDI yang masuk ke Indonesia memang sedang mengalami tren menurun. Bahkan tahun lalu pertumbuhannya negatif.

"Tahun ini menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sudah membaik tetapi relokasi investasi tidak hanya dari China tetapi juga dari Jepang dan Korea tidak ada yang masuk ke Indonesia," kata Piter saat dihubungi detikcom, Sabtu (7/9/2019).

Dia mengatakan, Indonesia kalah dengan Vietnam, Thailand dan Malayasia dalam menangkap peluang tren relokasi investasi yang sedang berlangsung khususnya dari China.

Piter menambahkan, selama lima tahun terakhir ini pemerintah juga sudah cukup banyak melakukan upaya untuk menarik investasi, mulai dari perbaikan perizinan dengan OSS, hingga pemberian berbagai insentif pajak.

"Sesungguhnya Indonesia sudah sangat menarik bagi investor, tetapi hambatan seringkali justru saat investor akan merealisasikan investasinya," ujar Piter.



Hambatan yang muncul misalnya, ada masalah pada pembebasan lahan dan perizinan. OSS menurut Piter masih jauh dari sempurna dan banyak kendala dalam penerapannya.

Selain kedua kendala tersebut, masih ada faktor lain yang menghambat seperti tidak konsistennya kebijakan pemerintah, tidak ada koordinasi pusat daerah dan terakhir masalah perburuhan atau pengupahan.

Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan kurang diliriknya Indonesia terjadi karena perbedaan iklim investasi manufaktur di Indonesia dengan Vietnam.

Menurut dia, rezim perizinan dan insentif di Indonesia yang kurang menarik serta terputus dari rantai pasok global.

"Faktor utama memang karena ruwetnya perizinan relokasi industri manufaktur. Vietnam itu punya sistem perizinan investasi lebih terintegrasi antara pusat dan daerah, sementara Indonesia antara pemerintah pusat dan daerah belum klop," jelas dia.

Bhima mencontohkan, misalnya OSS di bawah BKPM pusat dan PTSP di tingkat daerah masih terhambat sinkronisasi izin wilayah. Hal ini menyebabkan investor yang sudah mengantongi izin di pusat tapi di daerah digantung berbulan-bulan.

"Ibarat masuk pintu, keluarnya seribu jendela," ujarnya.

Selain itu, Vietnam memiliki insentif yang spesifik seperti CIT atau insentif tergantung lokasi pabrik dan jenis usahanya. Rate insentif yang diberikan beragam dan memiliki bonus 5-20%.

Beda dengan di Indonesia, pemerintah memberi banyak insentif tax holiday, tax allowance tetapi belum tentu investor tertarik karena terlalu umum.

Padahal menurut Bhima tahun lalu pemerintah mengeluarkan belanja pajak Rp 221 triliun setara 1,5% produk domestik bruto (PDB).

"Kan ada juga investor di sektor tekstil misalnya, dia pilih insentif diskon tarif listrik di jam sibuk atau keringanan bea masuk untuk pengadaan mesin baru. Jadi tidak semua butuh tax holiday, kalau insentif nggak spesifik itu namanya mubazir," ujar dia.



Simak Video "Koleksi Sneakers, Investasi Kekinian Anak Muda"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com