Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 23 Sep 2019 12:21 WIB

Untung Rp 9 M/Bulan, Ini Cara Oknum BPNT Selewengkan Beras Bansos

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Vadhia Lidyana Foto: Vadhia Lidyana
Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) mengungkapkan ada 300 lebih e-warong siluman atau palsu yang beredar di seluruh Indonesia. E-warong tersebut merupakan penyalur Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang terdaftar di Kementerian Sosial (Kemensos).

Buwas mengatakan, dari temuan tersebut, di antaranya ada yang juga membuka usaha tambal ban namun juga berkedok e-warong.

"Ternyata e-warong ini tidak terdata, ternyata tambal ban. Itu saya telisik sudah 300 lebih, yang menemukan tim saya, tapi tim saya tidak hanya Bulog, rahasia. Kalau hanya tim dari Bulog kan tidak bisa 100% dipercaya," kata Buwas dalam konferensi pers temuan BPNT, di Gedung Bulog, Jakarta, Senin (23/9/2019).

Ia memaparkan, saat ini ada sekitar 3.000 e-warong yang ada di seluruh Indonesia. Artinya, ada sekitar 10% dari e-warong tersebut yang merupakan e-warong 'siluman'.

E-warong siluman tersebutlah yang menurut Buwas melakukan aksi penyelewengan dari penyaluran BPNT. Perlu diketahui, penyelewengan ini dilakukan dengan menggunakan karung beras Bulog palsu dan diisi dengan beras medium. Padahal, beras yang disalurkan Bulog ke BPNT merupakan beras berkualitas premium.



Ia mengatakan, tambal ban yang berkedok e-warong siluman ini beroperasi hanya pada saat pelaksanaan penyaluran BPNT yang dilakukan satu bulan sekali.

"Jadi tambal ban itu bisa jadi e-warong, ini bisa kita buktikan. Tambal ban ini bukanya hanya pada saat penyaluran BPNT, setelah itu tidak ada lagi," sebutnya.

Buwas membeberkan, masyarakat penerima BPNT atau Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di wilayah-wilayah tempat para oknum beraksi tersebut dipaksa menerima beras yang telah dioplos. Jika tidak, maka masyarakat tersebut diancam dicoret dari daftar KPM.

"Masyarakat penerima BPNT itu dipaksa menerima beras jelek dengan ancaman, kalau dia tidak menerima itu mereka akan dicoret dari nama penerima BPNT. Sudah ada bukti rekamannya itu, saya kalau kerja tidak asal-asalan," kata Buwas.

Aksi para oknum, kata Buwas saat ini sudah merajalela dengan mudahnya memperoleh karung beras palsu, bahkan bisa dibeli melalui online. Sehingga, sangat mudah untuk mengoplos beras Bulog.

"Teman-teman mau pesan online juga jadi, dapat. Saya sudah lapor Satgas Pangan untuk segera ditangani. Ini sudah kejahatan awal dan sudah pasti bersindikat," ungkap dia.



Simak Video "Heboh Nenek di Sumedang Kecewa Timbangan Beras BPNT Kurang"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com