Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 14 Okt 2019 19:40 WIB

Pemerintah Rapat Bahas Harga Karet Anjlok 3,5 Jam, Ini Hasilnya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Puti Aini Yasmin Foto: Puti Aini Yasmin
Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian hari ini menggelar rapat koordinasi (rakor) terkait harga karet yang masih turun di tingkat internasional. Rapat digelar sekitar pukul 14.30 dan selesai pukul 18.00 WIB.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memanggil sejumlah pejabat Kementerian seperti Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Dirjen Kementerian PUPR, Kementerian Perhubungan hingga Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo).

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi mengatakan rakor juga membahas cara untuk meningkatkan konsumsi karet dalam negeri.

Dia menyebutkan, Kemenko meminta Kemenhub untuk meningkatkan penggunaan karet, dilakukan revisi regulasi yang tadinya hanya memperbolehkan karet sintetis tapi juga ditambah karet alam.

Misalnya penggunaan karet untuk aspal jalan raya, pembuatan traffi cone, bantalan rel kereta api, hingga dock fender pelabuhan. Budi menyebut saat ini pemerintah diminta menghitung kebutuhan penggunaan karet ini.

"Nah sekarang tinggal berapa kebutuhannya, nanti akan kami coba kalkulasikan berapa butuhnya," kata Budi di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (14/10/2019).



Budi mengungkapkan, rakor juga membahas kerja sama antara pelaku industri. Hal ini karena akan dibutuhkan investasi yang besar untuk memproduksi barang tersebut.

"Saya sudah sampai tahap ini, saya mau bicara dengan pabrik yang tertarik untuk menginvestasikan uangnya untuk bikin pabrik itu. Saya ketemu juga dengan badan litbang karet di Bogor karena setiap produksi ini harus melalui proses penelitian," ujarnya.

Menurut dia, di satu sisi regulasi sudah mendukung pelaku industri agar tertarik untuk memproduksi lebih banyak.

Sebagai informasi, sebelumnya pemerintah Indonesia telah menerapkan skema pembatasan ekspor karet alam atau Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) untuk mendongkrak harga di pasar internasional pada periode April hingga Juli tahun ini.

Pembatasan ekspor ini disetujui negara anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC), yakni Thailand, Malaysia, dan Indonesia untuk menyikapi harga karet yang terus mengalami penurunan. Karena ada pembatasan ekspor maka konsumsi dalam negeri harus ditingkatkan.

Menurut Budi rendahnya harga karet juga terjadi karena pengaruh kondisi global, tak hanya di Indonesia tetapi juga di negara lain.



Simak Video "Sapi Kurban Jokowi Manja Banget, Tidurnya Beralaskan Karpet"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com