Cerita Lara Tukang Cukur hingga Ibu Kantin yang Kena Dampak Corona

Soraya Novika - detikFinance
Sabtu, 11 Apr 2020 13:30 WIB
Sudah puluhan tahun Pak Ebit menjadi tukang cukur. Dia biasanya mangkal di pingkir rel kereta api di kawasan Roxy, Jakarta.
Foto: Rifkianto Nugroho

Aziz mengaku selama diterapkannya imbauan WFH, para pekerja di bidang ini dipastikan tidak memiliki pemasukan sama sekali. Sebab, sistem penerimaan gaji bukan berdasarkan gaji pokok, namun berdasarkan komisi per kepala.

"Bidang jasa seperti barbershop ini kebanyakan tidak memiliki gaji pokok, hanya komisi per kepala sebagai penghasilan kami untuk mencukupi segala kebutuhan keluarga kami. Sudah dipastikan selama kami tutup kami tak memiliki penghasilan sama sekali," sambungnya.

Meskipun ada barbershop yang buka demi bertahan di tengah situasi ini, pendapatan dipastikan menurun hingga 80% dari biasanya.

"Walaupun ada sedikit dari kami tetap buka untuk tetap bekerja tapi ada penurunan lebih dari 80% dari jumlah customer dari hari-hari biasa, seberapa banyak orang yang mau disentuh kepalanya oleh orang lain di situasi seperti ini? Cukup? Jelas sangat tidak dibanding dengan risikonya yang nekad tetap melakukan kontak dengan orang lain dan hanya mendapatkan untuk kebutuhan makan saja," keluhnya.

Selain itu, Aziz mengaku, bidang pekerjaannya ini sama sekali tidak menerima perhatian atau bantuan dari pemerintah. Sehingga, selain kehilangan pendapatan, pengeluaran yang tetap ada membuatnya semakin khawatir untuk menjalani kehidupan di bulan-bulan berikutnya.

"Tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah daerah ataupun pusat di bidang saya bekerja. Saya tidak bisa bekerja, tidak ada penghasilan, saya juga punya istri dan anak berusia 5 bulan yang harus dinafkahi, tempat tinggal pun harus tetap bayar, cicilan motor tetap berjalan, mau pulang kampung takut jadi carrier untuk orang tua dan warga di kampung sana karena saya dari Jakarta, zona merah virus ini," tutupnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3