Beras Luar Lebih Murah, Buwas: Bukan Berarti Harus Impor!

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 02 Jul 2020 20:30 WIB
Sebanyak 22.500 ton beras impor asal Thailand tiba di Pelabuhan Merak Mas, kota Cilegon, Banten.
Foto: Muhammad Iqbal
Jakarta -

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) buka-bukaan soal murahnya harga beras impor dibandingkan produksi dalam negeri. Ia mengatakan, di saar kurs dolar tembus Rp 14.516 hari ini, harga beras luar negeri yang ditawarkan ke RI hanyalah Rp 6.500/kg dengan kualitas premium.

"Kita sanksi jauh banget karena hari ini beras premium impor dengan kurs hari ini. kalau kita datangkan sampai di Indonesia itu harganya Rp 6.500/kg," ungkap Buwas dalam webinar Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju, Kamis (2/7/2020).

Sementara, harga beras premium dalam negeri terendah ialah Rp 10.000-11.000/kg, jauh lebih mahal dibandingkan beras impor.

"Produksi dalam negeri Rp 10.000-11.000/kg. Memang bagus beras impor karena sistem di sana sudah sesuai standar," tutur mantan Kabareskrim tersebut.

Meski begitu, Buwas menegaskan harga beras luar negeri yang murah bukan berarti Indonesia harus mengimpor.

"Tapi murah bukan berarti harus impor, nggak. Ini harga diri kita sebagai negara agraris harusnya nggak boleh impor pangan. Kita harus berpihak kepada petani," jelas dia.

Buwas mengatakan, tingginya daya saing beras luar negeri ini harus dijadikan pemicu agar produktivitas padi di dalam negeri lebih ditingkatkan.

"Kita harus kuatkan dari segala aspek terutama pangan. Karena tantangan di kita banyak petani konvensional, tapi buat cost hasil pertanian masih mahal. Sehingga ini tantangan kita," pungkasnya.



Simak Video "Beras Bulog Terancam Busuk, Buwas Akan Jadikan Ethanol"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)