Kondisi Bisnis Hotel dan Restoran Masih Prihatin

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 28 Jul 2020 17:35 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Industri hotel dan restoran belum juga pulih dari hantaman pandemi COVID-19. Menurut Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Haryadi Sukamdani, hingga pertengahan Juli saja okupansi atau tingkat keterisian kamar hotel masih rendah.

"Kondisi hotel updatenya, jadi tingkat hunian di Jakarta itu pada posisi pertengahan Juli itu adalah 20%, Batam okupansinya 10%, Bali itu 1% Bali paling parah. Surabaya 15%, Makassar 8%, Jogja 10%, Semarang 15%, Medan 10%, serta Malang 15%. Ini adalah untuk tingkat okupansi hotel," kata dia dalam acara Mid-Year Economic Outlook 2020 via virtual, Selasa (28/7/2020).

Sedangkan untuk mayoritas hotel, lanjut dia saat ini lebih dari 90% sudah mencatat kerugian keuangan dan mayoritas cadangan modal kerja mereka telah menipis bahkan habis.

Pengusaha hotel yang proses restrukturisasi utangnya sedang berjalan, khususnya untuk lembaga keuangan yang likuiditasnya terbatas masih berjalan alot, ditambah bunga restrukturisasi dan fee-nya relatif tinggi.

"Dan kita juga menghadapi permasalahan dengan biaya listrik dan gas yang sangat memberatkan karena kita membayar diatas daripada penggunaan atau kita harus membayar minimum charge-nya," sebut Hariyadi.

Dirinya pun memperkirakan pemilik hotel akan kesulitan membayar Pajak Bumi Bangunan (PBB) bulan Agustus karena kondisi keuangannya sekarat.

Untuk kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE/Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran), serta wedding, dia jelaskan sudah mulai berjalan namun dengan kapasitas dibatasi hanya 50%.

"Dan berkurangnya jumlah penerbangan itu, juga serta mahalnya biaya tes COVID-19 untuk penumpang membuat demand (permintaan kamar hotel) di daerah menurun drastis," ujarnya.

Untuk bisnis restoran, dia mengatakan kurang lebih kondisinya adalah sama, yaitu mengalami kerugian keuangan, kehabisan modal kerja, beban utilitas yang tinggi, hingga kesulitan keuangan.

"Untuk restoran yang berada di mall itu beban operasionalnya lebih besar karena minimnya tamu yang datang, dan juga biaya sewa mal yang kelihatannya sulit untuk diturunkan," terangnya.

Ditambah jumlah pengunjung restoran masih rendah, sebagai restoran pun mulai fokus melakukan penjualan secara online.

"Dan juga ada sebagian yang mengalami kesulitan bahan baku. Beberapa bahan baku ada keterbatasan," tambahnya.



Simak Video "Napi di Makassar Curi Mobil Bermodalkan Telepon"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/dna)