Benarkah RI Masuk Resesi Teknikal?

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 05 Agu 2020 15:16 WIB
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

Pembangunan gedung bertingkat di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (30/04/2015). Chief Economist BRI Anggito Abimanyu mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2015 diperkirakan akan melambat hanya di level 4,9 persen sampai 5 persen atau terendah dalam lima tahun terakhir. Grandyos Zafna/detikcom
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi Indonesia minus 5,32% di kuartal II-2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy). Jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya (q to q) maka ekonomi nasional minus -4,19%. Realisasi ini juga membuat ekonomi Indonesia dua kuartal berturut-turut terkontraksi, pada kuartal I-2020 secara kuartalan sebesar -2,41%.

Secara teknis, kontraksi berturut-turut secara kuartalan (q to q) bisa dibilang sebagai resesi teknikal (technical recession). Benarkah ekonomi Indonesia masuk resesi teknikal?

Vice President Economist PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede menjelaskan ekonomi Indonesia belum masuk resesi teknikal. Pasalnya, struktur perhitungan ekonomi nasional masih memasuki faktor musiman, seperti Lebaran dan faktor pendorong lainnya di bulan-bulan tertentu.

"Untuk data PDB yang sudah dilakukan penyesuaian musiman, maka pada umumnya, resesi teknis didefinisikan sebagai pertumbuhan kuartalan mengalami pertumbuhan yang negatif dua kuartal berturut-turut. Namun mengingat data PDB Indonesia masih belum menghilangkan faktor musiman, maka teknikal resesi didefinisikan sebagai pertumbuhan tahunan yang mengalami pertumbuhan negatif pada dua kuartal berturut-turut. Jadi Indonesia belum teknikal resesi," jelas Josua saat dihubungi detikcom, Rabu (5/8/2020).

Jika benar Indonesia masuk resesi teknikal, menurut dia seharusnya BPS sudah mengumumkan sejak 2014. Bahkan, menurut dia beberapa kuartal pada tahun-tahun berikutnya juga sempat mengalami negatif secara berturut-turut.

Berdasarkan data BPS secara kuartalan, pada kuartal IV-2014 -2,07% dan pada kuartal I-2015 -0,16%. Selanjutnya pada kuartal IV-2015 -1,73% dan pada kuartal I-2016 -0,36%, lalu ada juga pada kuartal IV-2016 -1,81% dan pada kuartal I-2017 -0,30%. Bahkan, ekonomi Indonesia secara kuartal pernah tiga kali berturut negatif, yaitu pada kuartal IV-2019 yakni -1,74%, kuartal I-2020 yaitu minus -2,41%, dan kuartal II-2020 yaitu -4,19%.

Oleh karena itu, Josua menilai masih adanya faktor musiman pada perekonomian Indonesia maka tidak bisa dibilang jika ekonomi nasional masuk dalam resesi teknikal.

"Jadi kalau data historikalnya ada bahwa kalau kita mengacu ke kuartal itu kita sudah negatif dua kali berturut-turut, kenapa nggak dibilang kapan tahun, kalau kita melihat q to q ya nggak bisa, karena perekonomian kita ada musimannya ini nah BPS ini tidak bisa menghilangkan itu," katanya.

"Jadi tidak fair kalau ngomongin q to q, misalnya Q2 ada Lebaran maka Q3 jadinya negatif pasti melambat," tambahnya.

Sebelumnya, BPS mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 minus 5,32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Perekonomian Indonesia pada triwulan II-2020 year on year dibandingkan triwulan II-2019 mengalami kontraksi 5,32%," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/8/2020).

Suhariyanto menambahkan jika dibandingkan dengan triwulan I-2020 maka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2020 mengalami kontraksi 4,19%.

"Sementara kumulatif semester I terhadap semester I-2019 kontraksi 1,26%," tuturnya.



Simak Video "Erick Thohir Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Pulih 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/ara)