7 Catatan Penting Agar Ekonomi RI Nggak Nyungsep ke Jurang Resesi

Tim detikcom - detikFinance
Rabu, 05 Agu 2020 23:36 WIB
Poster
Ilustrasi ekonomi di tengah Corona/Foto: Edi Wahyono

Kelima, revolusi tiang listrik. Seperti saya kritik di atas tadi dimana pertumbuhan sektor infokom lembek karena daya pikir kebijakan lemah dan lamban. Saya memberikan saran revolusi dari tiang listrik, yang dirancang murah. Pemerintah meminta kepada seluruh perusahaan IT penyedia layanan untuk masuk ke seluruh daerah dengan kabel fiber optiknya melalui jaringan tiang listrik.

Tiang-tiang listrik itu sebenarnya sudah masuk ke seluruh pelosok negeri , tingkat elektrifikasi di atas 90 persen. Sistem palapa ring harus dipakai untuk mendukungnya. Berikan tiang listrik itu gratis, atau diskon, atau disubsidi pemerintah kepada perusahaan IT agar seluruh negeri bisa dialiri internet. Sebaliknya pemerintah mewajibkan perusahaan IT untuk memberikan harga murah kepada masyarakat karena sekarang sudah untuk berlipat.

Keenam, pemerintah dan tim ekonomi sibuk dengan permasalahan internalnya sendiri, koordinasi dan komunikasi yang buruk, kemarahan presiden yang tidak perlu, serta anggaran yang tidak terealisasi dengan memadai, tidak wajar. Dari awal komunikasi pemerintah sangat kacau dimana ada puluhan blunder komunikasi yang membingungkan dalam kebijakan COVID-19.

Akhirnya meskipun kasus COVID-19 terus meningkat, pemerintah pusat dipimpin Presiden tetap membuka PSBB lockdown sehingga kasus covid-19 sudah di atas 100 ribu. Tidak lama lagi kasus itu akan mencapai 200 ribu bahkan sampai 3 kali dari kasus yang terjadi di China, tempat asal virus ini.

Ketujuh, jika ini terus terjadi, tim pemerintah kacau dalam komunikasi, pemimpinnya gusar terhadap anak buah, tim tidak solid, maka COVID-19 mustahil bisa diatasi dengan baik. Jika COVID-19 tidak bisa diatasi, jangan bermimpi bisa mengatasi resesi.

"Tidak ada pertumbuhan ekonomi tanpa mengatasi pandemi. Jika pandemi terus berkembang seperti sekarang, maka resesi akan berkepanjangan. Pemerintah akan kesulitan mengembalikan ekonomi tumbuh kembali," tutur Didik.


(hns/hns)