Makin Kreatif, Kenali Cara Pelaku Investasi Bodong Menjerat Korban

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 23 Sep 2020 12:59 WIB
Investasi Bodong
Foto: Tim Infografis: Nadia Permatasari
Jakarta -

Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menilai bahwa investasi bodong makin kreatif untuk menipu korban.

Hal itu berkaca dari Aplikasi Alimama yang sedang menjadi sorotan karena menjanjikan komisi kepada pengguna yang melakukan kegiatan transaksi "belanja" di sejumlah marketplace. Memang belum ada bukti mereka bodong. Tapi Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (SWI OJK) mengingatkan masyarakat agar tidak lekas percaya hingga berisiko tertipu kegiatan tersebut.

"Kami mengimbau masyarakat waspada terhadap penawaran kegiatan ini, jangan sampai rugi karena penipuan," kata Ketua SWI OJK Tongam L Tobing dikutip dari CNN Indonesia.

Kembali ke Bhima, investasi bodong seolah tak kehabisan akal untuk berkamuflase di tengah masyarakat.

"Pertama, investasi bodong itu makin inovatif. Jadi modusnya pun makin beragam. Dulu banyak sekali investasi bodong bermodus MLM, kemudian setelah banyak mendapatkan perhatian khusus dari OJK berubah bentuk lagi, makin kreatif. Kan seperti Alimama, bentuknya cukup menarik kan ya, orang di suruh belanja barang tapi harus top up saldo dulu," kata dia saat dihubungi detikcom, Rabu (23/9/2020).

Jadi, pengguna aplikasi Alimama dijanjikan komisi berdasarkan harga barang yang dibeli saat 'belanja'. Sebetulnya pengguna seolah-olah "belanja" yang artinya duit tidak benar-benar dibelanjakan. Uang pengguna nantinya akan dikembalikan beserta komisi yang diperoleh berdasarkan harga barang.

Untuk bisa belanja, pengguna harus top up saldo Alimama lebih dulu. Makin besar saldo top up untuk belanja semakin besar komisi yang bisa diperoleh. Aplikasi Alimama ini disebut bisa diakses melalui https://almm.qdhtml.net/. Namun kini, situs web tersebut sudah tak dapat dibuka.

Terlebih, menurut Bhima, Alimama dari namanya identik dengan situs perdagangan online (e-commerce) Alibaba Group milik Jack Ma. Hal itu bisa membuat masyarakat terkecoh.

"Menggunakan nama yang mirip dengan pemain besar. Alimama kan orang sepertinya identik dengan Alibaba. Jadi orang gampang percaya. Itu juga salah satu trik inovasi sebenarnya di bidang investasi-investasi yang bodong atau bermasalah," tambahnya.



Simak Video "Investasi Kurban Tak Cair, Ratusan Orang Geruduk Rumah Mewah di Cianjur"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/dna)