4 Langkah Bikin Nama Merek Bisnis Biar Makin Laris!

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 21 Okt 2020 20:15 WIB
Ilustrasi bisnis data nasabah
Foto: Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -

Menentukan sebuah nama untuk menjadi merek ketika hendak memulai bisnis sangatlah penting. Merek itu nantinya akan membuat pelanggan mudah ingat terhadap sebuah produk, dan juga menciptakan ciri khas.

Ketika menentukan nama untuk menjadi merek itu ada beberapa langkah yang harus dilakukan. CEO Neyma Dodi Zulkifli ada 4 langkah untuk menentukan nama menjadi merek ketika detikers hendak berbisnis:

1. Prinsip Dua Kutub

Langkah pertama ialah memilih satu di antara dua prinsip kutub, yakni kutub produk-produk mahal dan murah.

"Nama brand apakah perlu relate dengan produknya? Tidak selalu. Ketika Anda membuat nama brand, ingatlah prinsip tentang dua kutub," kata Dodi dalam acara Festival Ide Bisnis detikcom yang disponsori PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) yang disiarkan virtual, Rabu (21/10/2020).

Ketika detikers menjual produk dengan harga yang cukup tinggi, maka disarankan nama mereknya memiliki filosofi atau makna yang mendalam.

"Barang-barang mahal itu konsumen pertimbangannya cukup matang, misalnya rumah, mobil, baju mahal. Ini pertimbangannya cukup lama. Ketika masuk kutub mahal, namanya harus beda, nama-nama filosofis, based on story," terang Dodi.

Menurutnya, melalui nama merek bisa membangun kepercayaan konsumen atas barang mahal yang memang perlu pertimbangan lama ketika membelinya.

Selanjutnya, jika detikers menjual produk dengan harga yang cukup terjangkau, maka lebih baik namanya yang mudah diingat.

"Kalau produk-produk murah itu based on product. Semakin mudah dikenal, semakin baik. Nah ini beda perlakuan," jelas Dodi.

2. Sesuaikan Kategori Pasar

Ia mengatakan, langkah kedua adalah sesuaikan nama merek dengan kategori pasar atau jenis bisnis yang dibangun detikers.

"Contohnya saya punya klien, dia bisnisnya bimbingan belajar (Bimbel) namanya Crown. Kenapa namanya Crown? Karena Bimbelnya mahal, per siswa Rp 200 juta. Memang tepat karena mahal, tapi nggak tepat untuk kategori Bimbel. Kalau untuk toko perhiasan, hotel, itu jauh lebih pas," ujar Dodi.

3. Sesuaikan Segmentasi Konsumen

Langkah ketiga ialah menyesuaikan segmentasi konsumen. Ia mencontohkan, ketika memilih nama merek menggunakan Bahasa Inggris, maka tujukanlah produk itu pada konsumen yang teredukasi.

"Menggunakan Bahasa Inggris bisa mengangkat image? Sangat bisa. Tapi pastikan segmentasinya untuk orang-orang teredukasi," tuturnya.

4. Sesuaikan Kepribadian Produk

Terakhir, jika memilih nama merek maka sesuaikanlah dengan kepribadian produk atau brand personality.

"Misalnya nama Sultan, itu bagus. Tapi kalau bisnis saya shampoo untuk perempuan atau anak-anak, apakah nama ini pas? Tentu tidak cocok," pungkas Dodi.

(dna/dna)