Diskon Makan Dihapus, Inflasi Inggris Melonjak Jadi 0,5%

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 22 Okt 2020 14:17 WIB
Pub hingga restoran di Inggris kembali dibuka usai pemerintah longgarkan lockdown. Warga pun antusias menikmati hiburan di akhir pekan.
Foto: AP Photo
Jakarta -

Inflasi Inggris September 2020, kembali pulih dari 0,2% pada Agustus menjadi 0,5%, meski masih jauh di bawah target Inggris sebesar 2%. Naiknya tingkat inflasi Inggris didorong berakhirnya skema diskon yang wajib dilakukan restoran dan kafe untuk meringankan beban orang selama pandemi COVID-19.

Beberapa bulan belakangan Inggris melakukan skema yang bertajuk Eat Out to Help Out. Skema dibuat agar harga makanan di restoran dan kafe diberi diskon agar lebih murah.

Dikutip dari BBC, Kamis (22/10/2020) Indeks Harga Konsumen (IHK) mulai naik lebih cepat pada bulan September setelah skema diskon makanan berakhir. Hal itu mendorong oleh harga restoran dan kafe meningkat lagi.

Dalam layanan katering, harga naik 4,1% antara Agustus dan September 2020, dibandingkan dengan kenaikan 0,2% antara dua bulan yang sama pada 2019. Harga mobil bekas, naik 2,1% antara Agustus dan September 2020, dibandingkan dengan penurunan 1,4% antara dua bulan yang sama tahun lalu.

National Statistics (ONS) mengatakan harga transportasi naik, sebab permintaan mobil bekas meningkat karena saat ini orang menghindari menggunakan transportasi umum.

Harga bensin rata-rata juga naik menjadi 113,3 pence sterling setara Rp 21.690 (kurs Rp 191) per liter pada September 2020, naik dari 113,1 (Rp 21.650) pence sterling pada Agustus. Namun, itu masih jauh di bawah 127,3 pence sterling (Rp 24.300) yang tercatat pada September 2019.

Berbeda dengan sektor penerbangan, menurut Wakil Ahli ONS, Jonathan Athow penurunan tarif penerbangan jelang berakhirnya libur sekolah, memiliki pengaruh yang lebih kecil pada indeks inflasi.

Kepala Ekonom Inggris di Capital Economics Paul Dales, mengingatkan Bank of England segera menggelontorkan stimulus pada bulan depan. Mengingat, meski inflasi tercatat naik, kenaikan itu terbilang rendah dari target Inggris 2%. Stimulus juga dimaksudkan untuk membangun ekonomi dari keterpurukan.

"Dengan inflasi CPI hanya 0,5% di bulan September, sulit untuk memikirkan alasan mengapa Bank of England tidak akan meluncurkan QE £ 100 miliar atau lebih," ujar Dales.



Simak Video "BPS Catat September Alami Deflasi 0,05%"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)