Pertanian RI Perlu Digenjot Lewat Cara Ini

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 22 Okt 2020 22:02 WIB
Petani melakukan panen di Desa Rancaseneng, Kecamatan Cikeusik, Pandeglang, Banten, Selasa (28/7/2020). Sebanyak 400 hektar sawah panen dengan baik.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Indonesia sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian. Sayangnya, Indonesia belum memiliki korporasi pertanian atau corporate farming.

"Sektor UMKM 60% bergerak di sektor makanan. Dan yg cukup ironi mengkonsumsi 66% terigu nasional. Di sektor produksi, di pertanian dan perikanan, hampir di atas 90% UMKM. Kita belum memiliki corporate farming," kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam Rakornas Pengendalian Inflasi 2020 yang disiarkan virtual, Kamis (22/10/2020).

Teten mengatakan, ada beberapa penyebab mengapa Indonesia hingga saat ini belum memiliki corporate farming. Salah satunya adalah sebagian besar petani memiliki lahan yang sempit.

Selain itu, pelaku sektor pertanian juga masih sulit memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan. Dan juga berbagai penyebab lainnya.

"Saya kira ini terkendala sektor produksi di UMKM, punya potensi yang perlu dikembangkan, yang saat ini terkendala masalah inefficiency karena kepemilikan lahan yang sempit, pembiayaan, kepastian pasar dan harga, dan juga inovasi teknologi," jelas Teten.

Untuk itu, pemerintah berupaya membangun korporasi pertanian melalui koperasi.

"Bagaimana usaha-usaha kecil dan perseorangan harus dikonsolidasi dalam 1 kelembagaan yang dikelola bersama, dalam hal ini kami dorong koperasi. Dengan kelembagaan ini maka para petani kecil dan berlahan sempit bisa dikonsolidasi ke dalam skala usaha keekonomian," ujarnya.

Melalui program itu, pemerintah tak cuma 'menggabungkan' petani dalam satu kelompok, tapi juga membeli bantuan fisik untuk mendukung produktivitasnya.

"Sarana bantuan pemerintah mulai dari pupuk, benih-benih, alat-alat pertanian, pembiayaan, pelatihan bisa dikonsolidasi dalam model bisnis yang produktif," imbuh dia.

Namun, ia juga meminta agar pelaku pasar juga berkontribusi dengan memberikan kepastian menyerap produk hasil korporasi pertanian. Sehingga, sektor keuangan juga akan memberikan dukungan pada petani melalui pembiayaan.

"Produksi dan pasar harus terhubung secara pasti sehingga lembaga pembiayaan dan penjaminan pinjaman untuk sektor produksi akan bergairah. Saat ini perbankan, KSP juga masih kecil porsinya untuk membiayai produksi di sektor pangan," tutupnya.

(hns/hns)