Top! Petani Kakao Tembus Ekspor ke Belanda di Tengah Pandemi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 24 Okt 2020 16:00 WIB
Petani Kakao di Bali
Foto: Dok. LPEI
Jakarta -

Para petani kakao yang tergabung dalam Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) mengekspor 12 ton biji kakao fermentasi organik ke Den Haag, Belanda senilai Rp 600 juta. Ekspor ini dilakukan dalam kondisi pandemi COVID-19 yang penuh tantangan. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan LPEI yang bekerja sama dengan Bea Cukai Denpasar untuk melakukan ekspor secara mandiri tanpa melalui pihak ketiga.

Proses ekspor ini memang menemui banyak kendala mulai dari sulitnya mengirimkan sampel produk kakao ke negara tujuan hingga berhentinya roda bisnis pembeli di Eropa. Selain itu juga ada proses administrasi dan pemeriksaan produk dan dokumen yang lebih ketat saat pandemi.

Direktur Yayasan Kalimajari I Gusti Agung Widiastuti mengungkapkan KSS ini masuk dalam Desa Devisa Kakao binaan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) di Desa Nusasari, Jembrana, Bali. Dalam praktiknya LPEI membantu dan mendampingi koperasi serta petani untuk produksi hingga distribusi ke mancanegara.

"Kami mendapat pendampingan dan pelatihan kapasitas produksi produknya mengenai ekspor dari LPEI," kata dia, Sabtu (24/10/2020).

Dia mengungkapkan pada 2019 lalu Koperasi KSS ini hanya memiliki satu buyer dari luar negeri dengan jumlah pengiriman kakao tidak mencapai 8 ton. Dia menceritakan saat awal pandemi ini mereka kehilangan 3 pesanan sebanyak 19 ton dari buyer potensial di luar negeri.

Hal ini karena adanya pembatasan di negara tersebut yang membuat bisnis berhenti. Widi mengungkapkan saat pandemi ini, koperasi berupaya untuk menjaga arus kas agar tetap berjalan dan sustain sehingga para petani tetap bertahan di kakao.

Biasanya jika di komoditas kakao sulit, petani lebih sering menebang dan mengganti dengan tanaman lain. Namun dengan usaha yang ulet, koperasi tetap bisa membantu 609 petani kakao yang menjadi binan di Desa Devisa ini.

Dia menceritakan LPEI ini merupakan salah satu lembaga yang paling membantu para petani kakao di Jembrana. Pasalnya saat awal dibentuk koperasi KSS ini sama sekali tidak memiliki pengetahuan dasar terkait ekspor barang.

"Tapi keinginan kami untuk ekspor itu sudah ada, ada satu milestone kami niat sekali untuk ekspor suatu hari. Tapi dulu KSS tidak mengerti urusan bisnis, urusan kami ya mendampingi petani, karena itu dengan LPEI kami ingin belajar manajemen ekspor," jelas dia.

Hingga akhirnya pada 2015 pengiriman sampel perdana dilakukan ke Prancis dan berhasil lolos. Walaupun masih menggunakan pihak ketiga karena banyak kebutuhan mendesak, namun untuk pembayaran perusahaan Prancis itu tetap mengirimkan ke rekening KSS.

Proses ekspor perdana tidak berjalan mulus, ada kendala di pengiriman yang terlalu lama biji kakao lembab karena perbedaan suhu dari panas ke dingin. Namun dari situ mereka belajar untuk melapisi packing pengiriman hingga 3-4 layer.

Sejak 2015 hingga 2019, para petani kakao di Desa Jembrana sudah memproduksi sekitar 81,6 ton biji kakao fermentasi yang sebagian besar dikirim ke negara-negara di Eropa seperti Prancis, Belgia, Jepang dan Australia. Prancis merupakan pembeli dengan volume terbesar yang mencapai 12,5 ton setiap tahunnya.

"Luar biasa fondasi kami dibantu oleh LPEI, jika tidak ada training itu, maka kami benar-benar blank," ujar dia.

Widi mengungkapkan untuk koperasi produksi jangan pernah takut bermimpi untuk ekspor. Hal ini seperti yang dilakukan oleh KSS. KSS dulunya merupakan koperasi yang sudah bangkrut pada 2006, koperasi ini dibentuk oleh Pemkab Jembrana dan bertujuan agar transaksi kakao hanya satu pintu melalui koperasi ini.

Namun dua tahun kemudian KSS bangkrut dan 2009 tutup hingga 2010 tidak ada aktivitas. Kemudian Widi datang dengan membawa program kakao, dan Kalimajari ini ingin menghidupkan lagi KSS.

Pada 2011 Widi dan tim berupaya menguatkan manajemen dan mulai menjalankan pada 2013. "Dulu koperasi KSS sempat disebut Koperasi Sakit-sakitan, karena banyak yang korupsi dan tidak mengurusi koperasi ini dan disebut tidak perlu diurus lah. Tapi kami tidak putus asa, kami punya mimpi suatu saat bisa berdiri di depan kontainer (untuk ekspor) milik KSS," kenang dia.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2