Ekonomi AS Diramal Melambat Lagi, Resesi Makin Memburuk?

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 30 Okt 2020 08:14 WIB
People wearing face masks walk by an electronic stock board of a securities firm in Tokyo, Monday, Aug. 3, 2020. Asian shares were mixed on Monday, as investors watched surging numbers of new coronavirus cases in the region, including in Japan. (AP Photo/Koji Sasahara)
Foto: AP/Koji Sasahara
Jakarta -

Pandemi virus Corona (COVID-19) telah menghancurkan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang membuat kerugian hingga US$ 2 triliun atau setara Rp 29.400 triliun (kurs Rp 14.700/US$). Sebelumnya ekonomi negara tersebut sempat rebound, namun sepertinya akan kembali pada posisi yang sulit.

Dilansir dari CNN, Jumat (30/10/2020), pada Kamis laporan Produk Domestik Bruto (PDB) menunjukkan ekonomi AS tumbuh pada rekor tingkat tahunan sebesar 33,1% selama kuartal III-2020. Itu merupakan efek kuat dari stimulus fiskal yang diberikan Federal Reserve dan mencerminkan kembali terbukanya sebagian besar ekonomi AS.

Sayangnya, akan ada hambatan nyata ke depan yang akan memperlambat pemulihan dan diprediksi sangat parah. Beberapa ekonom bahkan khawatir ekonomi akan mulai menyusut lagi dan memicu resesi double dip atau resesi berkelanjutan yang diselingi beberapa periode pertumbuhan dan memburuk lagi sebelum pulih sepenuhnya.

Jumlah virus Corona yang meningkat akan memperlambat pertumbuhan ekonomi pada musim gugur dan musim dingin di negara tersebut. Hotel, restoran, bioskop, maskapai penerbangan, hingga bisnis lain yang terkena dampak paling parah diperkirakan tidak dapat pulih sepenuhnya ketika pandemi memburuk.

Kegagalan Kongres dan pemerintahan Presiden Trump untuk mencapai kesepakatan stimulus membuat lebih banyak bisnis kecil akan gagal. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bisa dipercepat dan tidak ada stimulus yang diberikan kepada korban PHK dalam waktu dekat.

"Tanpa bantuan fiskal lebih lanjut hingga 2021, situasi kesehatan yang tidak terkelola dengan baik dan ketidakpastian pemilu dapat menyebabkan kesulitan yang panjang," kata Kepala Ekonom AS, Gregory Daco.

Selama enam minggu terakhir, model GDP Nowcast dari New York Federal Reserve menurunkan setengah estimasi untuk pertumbuhan tahunan menjadi hanya 3,5% selama kuartal IV-2020.

Jefferies bahkan lebih pesimis, memproyeksikan pertumbuhan tahunan hanya 2% selama tiga bulan terakhir tahun ini. Hal itu karena penarikan stimulus fiskal yang terlalu dini sehingga memberikan pukulan bagi belanja konsumen.

"Prospek untuk Q4 sangat goyah dalam pandangan kami. Perekonomian telah kehilangan banyak momentum selama musim panas," ucap Kepala Ekonom di Jefferies, Aneta Markowska.

(fdl/fdl)