Ekonomi AS Tumbuh 33,1% di Kuartal 3, tapi Jangan Senang Dulu

Anisa Indraini, Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 30 Okt 2020 09:22 WIB
WASHINGTON, DC - DECEMBER 24:  Trash begins to accumulate along the National Mall near the Washington Monument due to a partial shutdown of the federal government on December 24, 2018 in Washington, DC. The partial shutdown will continue for at least a few more days as lawmakers head home for the holidays as Democrats and the Trump administration cannot agree on an amount of funding for border security. (Photo by Win McNamee/Photo by Win McNamee/Getty Images)
Foto: Getty Images
Jakarta -

Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) melaporkan perekonomian AS berkembang ke tingkat tercepat dalam catatan kuartal-III 2020. Dalam produk domestik bruto (PDB) aktivitas ekonomi AS tumbuh 33,1% dan menjadi rekor tercepat dari perkiraan ekonom.

Dikutip dari CNN, Jumat (30/10/2020) bahkan pertumbuhan itu menjadi tercepat sejak pemerintah mulai melacak data PDB triwulanan pada 1947. Namun, ancaman anjloknya perekonomian AS masih membayangi negeri Paman Sam itu. Sebab angka kasus COVID-19 di AS masih terus melonjak.

Angka pertumbuhan ekonomi di kuartal-III 2020 menunjukkan pemulihan yang tajam, meskipun tiga bulan sebelumnya, ketika ekonomi berkontraksi pada tingkat tahunan ekonomi tercatat tumbuh sebesar 31,4%.

Jika dilihat dari data kuartalan saja, PDB tumbuh 7,4% dari kuartal-II hingga kuartal-III, dibandingkan pada kuartal-I dan kuartal-II tercatat penurunan hingga 9%.

Ekonom senior global Aberdeen Standard Investments, James McCann mengatakan ada berbagai sisi yang tengah di alami ekonomi AS, diantaranya ekonomi sebagian rebound sebab lockdown di berbagai wilayah berkurang. Tetapi ada masalah dalam tingkat penularan COVID-19 yang terus melonjak. Selain itu, Kongres AS masih alot dalam membuat kesepakatan stimulus baru.

Meskipun tingkat pertumbuhan tahunan kuartal ketiga lebih besar daripada penurunan di kuartal-II, bukan berarti ekonomi telah pulih sepenuhnya. Sebab yang menjadi alasan utama ekonomi belum sepenuhnya pulih, secara keseluruhan, aktivitas ekonomi masih US$ 670 miliar, atau 3,5% di bawah dari akhir 2019

Kepala Ekonom Fitch Ratings, Brian Coulton memperkirakan pertumbuhan akan melambat tajam dan masih jauh dari kondisi normal. Mengingat lonjakan kasus COVID-19 akan menunjukkan jarak sosial di semua implikasi perekonomian masih akan terus berlanjut.

Biro Riset Ekonomi Nasional AS mengatakan resesi masih membayangi ekonomi AS. Para ekonom khawatir ekonomi akan melambat lagi dalam tiga bulan terakhir tahun ini dan dapat memperdalam resesi ekonomi AS.

Dalam Back to Normal Index yang dibuat oleh Moody's Analytics dan CNN Business aktivitas ekonomi hampir tidak berubah dalam beberapa minggu. Jutaan orang masih menganggur dan bergantung pada tunjangan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan. Per September, pasar tenaga kerja AS masih turun 10,7 juta pekerjaan dibandingkan dengan masa sebelum pandemi.

Penghasilan pribadi turun di kuartal-III 2020 sebesar US$ 541 miliar karena efek dari berkurangnya stimulus baru. Ketika dampak program stimulus berkurang, hal itu dapat menghambat pemulihan. Sebab ekonomi AS sangat bergantung pada belanja konsumen.

Antara Juli dan September memang tercatat adanya peningkatan besar dalam belanja konsumen, terutama untuk perawatan kesehatan, layanan makanan dan akomodasi, serta mobil yang mendorong lonjakan ekonomi. Namun, secara keseluruhan, pengeluaran untuk layanan masih jauh di bawah level tertinggi sebelum pandemi.

Kepala ekonom AS di Oxford Economics Gregory Daco mengatakan para ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi jauh di bawah angka tahunan 10% pada kuartal terakhir tahun ini. Diperlukan waktu hingga akhir 2021 bagi hasil ekonomi untuk kembali ke posisi semula sebelum pandemi COVID-19 melanda.

Tetapi apakah pertumbuhan ekonomi itu benar-benar yang terbesar dan terbaik? Dilansir dari CNN, berikut faktanya:

1. Keuntungan Mengikuti Kerugian yang Besar

Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 AS memang yang tercepat dalam catatan data sejak tahun 1947. Tetapi ekonomi AS menurun pada tingkat tahunan 31,4% dan menjadi penurunan terdalam juga dalam catatan.

Alasan utama AS membukukan rekor PDB pada kuartal ini adalah karena adanya rekor penurunan pada kuartal sebelumnya.
Ketika melihat ke belakang dan dalam konteks yang lebih luas, ekonomi AS masih tumbuh jauh di bawah puncak sebelum pandemi. PDB masih lebih rendah US$ 670 miliar atau setara dengan Rp 9.849 triliun (kurs Rp 14.700/US$) daripada di akhir tahun 2019.

2. Data Menunjukkan Pemulihan Telah Melambat

Pemulihan ekonomi menjadi kabar baik bagi sektor bisnis dan pegawai yang kembali dipekerjakan. Tetapi kabar buruknya, data real-time menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi kehilangan momentum baru-baru ini. Pertumbuhan pekerjaan telah melambat, seperti halnya penurunan klaim pengangguran.

Hal itu sebagian besar karena aliran dana stimulus yang telah memudar. Sebelumnya dalam pandemi, stimulus senilai US$ 1.200 atau Rp 17 juta dari pemerintah dan bantuan sementara sebesar US$ 600 atau Rp 8,8 juta untuk tunjangan pengangguran mingguan membantu banyak keluarga mengatasi krisis.

Upaya-upaya tersebut pada awalnya membantu memicu pemulihan selama musim panas, tetapi sekarang, Kongres mengalami kebuntuan mengenai dana stimulus lebih lanjut.

Sekarang, kasus virus Corona melonjak lagi, menimbulkan risiko kesehatan masyarakat yang lebih besar, serta risiko ekonomi. Mengingat tantangan-tantangan tersebut, para ekonom menilai kecil kemungkinan ekonomi akan pulih sepenuhnya pada akhir tahun.

3. Orang dan Bisnis Masih Dirugikan

Restoran hanya menampung sekitar setengah dari pengunjung. Wisatawan yang diproses melalui pos pemeriksaan TSA masih turun lebih dari 50% dari tahun lalu. Hunian hotel, menurut STR, turun 31% dari tahun lalu.

Penjualan box office kurang dari sepersepuluh dari sebelum pandemi. Jam kerja karyawan di bisnis kecil masih lebih dari 20% di bawah level mereka.

Indeks Kembali ke Normal yang dibuat oleh CNN Business dan Moody's Analytics menunjukkan secara keseluruhan bahwa aktivitas ekonomi hampir tidak berubah dalam sebulan terakhir.

Sementara itu, beberapa perusahaan baru saja memulai gelombang baru PHK. Disney (DIS), United Airlines (UAL), American Airlines (AAL) dan Charles Schwab (SCHW) telah mengumumkan PHK massal.

Jutaan keluarga terus berjuang dengan dalam krisis makanan. Menurut data yang dikumpulkan melalui survei Census Pulse, pertengahan Oktober terdapat 23 juta rumah tangga tidak memiliki cukup makanan, naik dari 14 juta sebelum pandemi melanda awal Maret.

(fdl/fdl)