Perusahaan Mau PHK Karyawan, Waspada Nih Dampaknya

Herdi Alif Alhikam - detikFinance
Senin, 09 Nov 2020 05:54 WIB
Ilustrasi PHK
Foto: Ilustrasi PHK (Tim Infografis: Zaki Alfarabi)
Jakarta -

Di tengah kondisi ekonomi Indonesia resesi, badai PHK mulai menghampiri. Ribuan buruh dari berbagai sektor terpaksa kehilangan pekerjaannya, mulai dari buruh pabrik sepatu hingga karyawan karaoke.

Saat ini banyak perusahaan yang mengalami penurunan kinerja dan pendapatan, dan memilih PHK karyawan untuk bisa bertahan. Namun, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira justru menyarankan agar perusahaan tak buru-buru melakukan PHK karyawan untuk bertahan.

PHK menurutnya harus jadi keputusan terakhir. Bhima mengatakan tanpa melakukan PHK, perusahaan bisa mempertahankan karyawannya yang memiliki kinerja baik.

Bila ekonomi dan bisnis sudah pulih, pengusaha pun tak perlu repot untuk mencari karyawan baru. Belum lagi melakukan rekrutmen karyawan baru juga butuh biaya yang tidak sedikit.

"Jadi PHK itu keputusan yang paling akhir. Kenapa? Karena waktu ekonomi beranjak pulih maka perusahaan yang pertahankan karyawan tidak perlu kesulitan untuk memulai lagi ke tingkat produksi normal," kata Bhima kepada detikcom, Minggu (8/11/2020).

"Sementara itu, kalau PHK besar besaran yang susah adalah perusahaan sendiri karena harus keluar biaya rekrutmen bahkan pelatihan pegawai baru," ujarnya.

Belum lagi untuk melakukan PHK juga memiliki konsekuensi biaya bagi perusahaan. Bagi tiap karyawan yang di-PHK, perusahaan diwajibkan membayar pesangon. Alih-alih mengurangi beban, justru harus membayar.



Simak Video "Indosat M2 Dibubarkan, 350 Karyawan Di-PHK dan Siap Demo"
[Gambas:Video 20detik]