Maskapai EasyJet Dihantam Corona, Begini Jadinya

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 17 Nov 2020 23:05 WIB
Pesawat easyJet
Foto: Dok. easyJet
Jakarta -

Maskapai penerbangan murah atau low cost carrier (LCC) asal Inggris, EasyJet plc harus menerima kenyataan pahit dari dampak pandemi virus Corona (COVID-19). Perusahaan multinasional itu melaporkan pendapatan dari awal 2020 hingga kuartal III-2020 anjlok lebih dari 50%.

EasyJet melaporkan pendapatan sebesar £ 3 miliar atau sekitar Rp 56,11 triliun (kurs Rp 18.705) untuk tahun fiskal 2020 sepenuhnya. Angka itu menunjukkan penurunan hingga 52,9% jika dibandingkan dengan 2019.

Selain itu, EasyJet juga mencatat jumlah penumpang anjlok hingga 50% karena imbas pandemi Corona yang menyebabkan masyarakat hanya beraktivitas di rumah, atau tidak bepergian. Hal itu pun menyebabkan saham EasyJet turun sekitar 45% sejak awal tahun 2020.

Dilansir dari CNBC, Selasa (17/11/2020), perusahaan hanya berharap untuk tetap bisa terbang dengan kapasitas penumpang maksimal 20% hingga akhir 2020.

Terlepas dari masa-masa sulit untuk berbisnis, CEO EasyJet Johan Lundgre mengatakan perusahaan berada di jalur yang tepat untuk mendapatkan keuntungan dari fase pemulihan.

"Kami juga mengetahui daya tarik merek dalam hal kepercayaan yang dihasilkannya bagi pelanggan, dan juga nilai uang yang kami wakili memberikan dasar yang baik dan bangkit kembali dengan kuat ketika pemulihan tiba," kata Lundgren.

Selain itu, menurutnya jika pembatasan perjalanan diperpanjang, hasilnya justru akan meningkatkan permintaan yang terpendam. Hal itu disampaikan setelah pemerintah mencabut kebijakan karantina bagi masyarakat yang datang dari Kepulauan Canary. Dalam kurun waktu 24 jam, penjualan tiket EasyJet naik hingga 876% selama lima hari.

Di sisi lain, perusahaan sangat gembira mendengar pengembangan vaksin COVID-19 memberikan hasil yang cukup baik. Mulai dari Moderna yang mengumumkan vaksin virus Corona yang dikembangkannya efektif membunuh virus lebih dari 94%. Pekan lalu, Pfizer dan BioNTech juga mengumumkan vaksin mereka memiliki tingkat kemanjuran di atas 90%.

"Berita tentang vaksin ini sangat bagus dan saya pikir ini akan sangat membantu untuk meningkatkan permintaan dan kepercayaan orang untuk membuat rencana perjalanan di masa depan," kata Lundgren.

(hns/hns)