Sempat Tutup Toko 2 Bulan, Pia Agung Bali Laris Dibeli Lewat Online

Nurcholis Ma - detikFinance
Rabu, 02 Des 2020 22:21 WIB
Pia Agung
Foto: Pia Agung
Jakarta -

Pandemi COVID-19 telah merubah tren kebiasaan berbelanja masyarakat dari yang offline kini lebih banyak online. Tren tersebut harus dibarengi dengan adaptasi dan inovasi penjual untuk menggaet konsumen yang kini lebih banyak berbelanja online.

Salah satunya dengan menggunakan strategi digital marketing. Hal ini pulalah yang dipelajari dan dipraktekkan terus menerus oleh Agung Saputro (31) dalam mengelola usahanya, Pia Agung Bali. Pandemi bahkan jadi puncak hasil apa yang sudah dipelajarinya itu, yaitu meningkatkan omzet.

Agung menceritakan awal pandemi jadi titik balik mencari strategi mengelola bisnis yang dirintisnya sejak tahun 2016 silam tersebut. Ia bahkan sempat menutup tokonya yang ada di Jalan Bypass Ngurah Rai, Tuban, Bali selama dua bulan.

"Kalau dibandingkan omzet setelah dan sebelum pandemi, omzet secara keseluruhan dobel setelah pandemi, kalau dibandingin bulan-bulan biasa yah. Keseluruhan pendapatan naik 2 kali lipat," ujar dia saat dihubungi detikcom beberapa waktu lalu, dikutip Rabu (12/2/2020).


"Sebelum pandemi penjualan offline itu 70% dan online 30%. Setelah pandemi berubah drastis karena di Bali benar-benar drastis nggak ada wisatawan. Penjualan online 90%, penjualan offline tinggal 10%. Kalau dilihat pendapatan itu, kenaikan improvement online itu sangat besar, berkali-kali lipat dari sebelumnya," imbuhnya.

Awal Mula Mendirikan Pia Agung Bali

Menyadari sebagai 'pemain baru' di bisnis oleh-oleh pia Bali, Agung mencoba menonjolkan apa yang belum dimiliki kompetitornya, yaitu pia dengan rasa duren dan pelayanan terhadap pembeli. Ia menawarkan free delivery ke wisatawan yang sedang berkunjung di Bali.

"Gimana cara customer merasa nyaman kalau belanja, makanya ada service delivery gratis ke hotel-hotel, vila-vila, sampai ke Nusa Dua, Seminyak, Legian bisa diantarkan sampai ke tempat mereka. Mereka bisa hemat waktu dan nggak habis waktu buat cari oleh-oleh," ujarnya.

Pia Agung Bali sudah memiliki media sosial sejak awal berdiri, meskipun Agung menyadari belum mengelolanya secara profesional. Pada tahun 2017, ia juga mulai merambah membuka lapak di marketplace seperti Tokopedia.

"Tahun 2017 buka marketplace, tahu sendiri awalnya nggak ramai. Penjualan per hari kadang ada, kadang nggak ada. Tapi kan rutin kita cek, kalau makin lama makin ada customer ngasih review positif, orang lain yang ngelihat reviewnya kan jadi tertarik," ujarnya.

"Saya juga selain buka di Tokopedia, mulai belajar digital marketing, mencari lebih banyak digital marketing, gimana cara mendapatkan customer. Supaya dapat pelanggan itu pun nggak langsung berhasil masih nyoba-nyoba iklan, masih belum sesuai target market yang diinginkan," imbuhnya.

Agung mengatakan dari waktu ke waktu toko offline-nya mulai ramai dan dikenal dari mulut ke mulut. Namun, awal pandemi yang membuat tak adanya wisatawan datang ke Bali hingga tak mau gegabah dengan penyebaran virus Corona, membuat dirinya memutuskan untuk menutup tokonya selama dua bulan dan merumahkan karyawannya.

Strategi Melawan Corona

"Saat tutup itu saya gunakan untuk evaluasi dari sisi protokol kesehatan, produksi, dan semua karyawan di Pia Agung. Saya nyiapkan strategi supaya pas pandemi agak mereda, saya tetap bisa melanjutkan usaha ini," ujarnya.

Agung juga menyadari meski pandemi selesai, Bali tak mungkin langsung ramai wisatawan. Makanya selama dua bulan tutup toko itu ia dedikasikan untuk mencari strategi digital marketing. Ia mulai menjalankan kampanye hingga beriklan di media sosial.

"Mulai buka kembali dengan campaign dari bulan Juni tuh yah lumayan bagus. Saya datangi traffic, calon customer lewat FB campaign, ada sebagian customer yang nyaman belanja lewat Tokopedia misalnya, tiap orang beda-beda. Ada yang langsung WA manual, ada juga yang lihat iklan langsung website Pia Agung. Saya menyiapkan berbagai channel agar customer nyamannya belanja di mana aja," ujarnya.


Alhasil omzet tokonya meningkat dan didominasi dari penjualan online. Ia mengatakan mayoritas pembeli berasal dari kota-kota besar di Jawa seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Semarang. Namun ia juga pernah mengirim produknya dari Aceh hingga Merauke

"Saya ngelihatnya mereka penasaran untuk mencoba. Karena sebelumnya nggak biasa beli pia atau makanan dari luar kota. Karena mereka melihat iklan yang ditayangkan, ditambah melihat ulasan customer yang pernah beli, mereka jadi penasaran, kayanya enak nih. Ditambah ulasan customer sebelumnya, ditambah lagi promo free ongkir," ujarnya.

"Meskipun (pembeli) nggak di Bali, mereka ga musingin ongkir. (Misalnya) sekaligus ada program free ongkir dari Tokopedia. Ga keluar sama sekali lah dari ongkos kirimnya. 2-3 hari barang sudah diterima, customer happy yah seperti itu," imbuhnya.

Agung akhirnya membuka kembali toko dan mempekerjakan lagi 12 karyawannya (yang malahan bertambah dari sebelum pandemi yang berjumlah 9 karyawan). Pia Agung Bali juga menjadi top 10 seller Tokopedia kategori kue kering.

"Di Tokopedia ada wawasan pasar, kita bisa tahu dibandingkan penjual lainnya seperti apa performa kita, bisa kita lihat. Misalnya oke hari ini berdasarkan performa 7 hari ke belakang Pia Agung ada beberapa transaksi, ada semua datanya, dibanding penjual lain kita dikasih peringkat," ujarnya.

"Hari ini saya cek di peringkat ke 6, kadang ke-3. Tapi pas pandemi ini rata-rata masuk top 10 seller di Tokopedia kategori kue kering," imbuhnya.

Pia Agung Bali memiliki 8 varian dengan varian rasa durian menjadi best seller. Lalu ada juga varian keju, coklat, tiramisu, keju, capucino, dan lain sebagainya. Dilihat di Tokopedia, Pia Agung memiliki 2.190 ulasan dengan bintang 5.

Terus Belajar Digital Marketing

Menurut Agung, digital marketing membantu kita yang terbatas tempat, bahkan tak terbatas harus punya modal awal besar. Sebab digital marketing memungkinkan pengusaha sepertinya mendapatkan potensi target customer yang kita mau.

"Sekarang kalau mau belajar, banyak ilmu gratis, kayak di YouTube, di Google, kita bisa makai itu, belajar dan mencoba. Kebanyakan orang mencoba, gagal, berhenti. Kalau saya, boleh bilang belajar terus dilakukan, kalau gagal jangan berhenti. Dicari kenapa kok belum berhasil, dicari, dicoba berulang-ulang sampai ketemu yang pas bisa bantu bisnis," ujarnya.

"Pantang menyerahlah, jangan cepat menyerah dan tetap belajar, tetap harus terbuka, dalam arti ilmu banyak dari mana-mana orang ngajarin a, b, c. Kita telaah, kita analisa, praktekkan, di mana bekerja, di mana nggak bekerjanya, sampai ketemu yang pas. Sampai sekarang saya pun belum ketemu yang ideal yang pas, mencoba terus, setiap hari dievaluasi. Tiap hari nggak boleh ngerasa puas," pungkasnya.

(mul/ega)