Ekonomi 2020 Diramal Minus 1,7%, Sri Mulyani: Masih Lebih Baik

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 21 Jan 2021 15:16 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) didampingi Wamenkeu Suahasil Nazara (kanan) mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi XI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2020). Raker tersebut membahas Laporan Keuangan Kementerian Keuangan pada APBN 2019. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/aww.
Foto: ANTARAFOTO/PUSPA PERWITASARI
Jakarta -

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020 sebesar -1,7 hingga -2,2%. Meski minus, angka ini lebih rendah dibanding negara-negara G20.

"Tahun ini seluruh perekonomian dunia mengalami kontraksi, Indonesia juga mengalami kontraksi yang oleh IMF diperkirakan sekitar -1,5%," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati lewat video di acara CEO Forum, Kamis (21/1/2021).

"Kami memperkirakan -2,2% hingga -1,7%, angka ini masih lebih baik dibandingkan banyak negara baik dari negara dalam kelompok G20 kecuali RRT dan banyak ASEAN besar yaitu ASEAN 5, di mana kontraksi ekonomi mereka bahkan bisa mencapai -10%% di India dan -8,3% di negara tetangga kita seperti Filipina," paparnya.

Dia mengatakan, ekonomi mengalami tekanan karena dampak pandemi COVID-19 baik dari produksi dan permintaan. Dari sisi permintaan, Indonesia mengalami tekanan sangat dalam di kuartal II karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Dari sisi permintaan kita melihat dengan PSBB menyebabkan konsumsi mengalami penurunan yang sangat tajam -5,6% pada kuartal II. investasi menurun tajam -8,6% dan dengan perdagangan dunia yang melemah ekspor kita mengalami kontraksi hingga -11,7% pada kuartal II. Sehingga perekonomian kita mengalami kontraksi cukup dalam pada kuartal II," katanya.

Perekonomian mulai membaik pada kuartal III. Namun, permintaan masih mengalami tekanan.

Kembali, Sri Mulyani menuturkan, pada 2020 pertumbuhan ekonomi diproyeksi -2,2 hingga -1,7%.

"Outlook ekonomi kita pada 2020 adalah antara -2,2% hingga -1,7% di mana di kuartal IV kita tetap mengharapkan adanya tren membaik kalau dilihat dari dibandingkan kuartal II dan kuartal III, yaitu ekonomi diharapkan akan tumbuh tetap pada kontraksi tapi jauh melandai -2,9% sampai -0,9%," terangnya.

(acd/fdl)