Kemendag Buka Suara Soal Rembes Beras Vietnam: Kemungkinan Dioplos

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 24 Jan 2021 21:17 WIB
Bukan Nasi, Wanita Ini Hobi Mukbang Makan Beras Mentah
Foto: YouTube Asty Tulastri
Jakarta -

Kementerian Perdagangan (Kemendag) buka suara terkait kabar rembes beras impor Vietnam jenis jasmin rice. Berdasarkan informasi dari tim yang diterjunkan, kemungkinan beras tersebut dioplos sehingga bisa dijual murah.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendad Didi Sumedi mengatakan, pihaknya memang mengeluarkan izin impor untuk beberapa jenis beras.

"Ya betul Kemendag di 2020 telah menerbitkan izin impor beras premium seperti basmati, japonica dan jasmine," katanya kepada detikcom, Minggu (24/1/2021).

Dia mengatakan, kasus tersebut tengah didalami Kemendag. Berdasarkan informasi tim yang diterjunkan, kemungkinan beras itu dioplos sehingga bisa dijual murah.

Sebagaimana diberitakan, beras yang rembes di Pasar Cipinang itu dibandrol seharga Rp 9.000 per kg. Padahal, harga aslinya sekitar Rp 16.000 hingga Rp 19.000 per kg.

"Kasus tersebut sedang didalami oleh unit pengawasan Kemendag (Ditjen. Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga). Info dari tim yang diterjunkan, harga jasmine rice di lapangan sebenarnya Rp 16 ribu sampai dengan Rp19ribu/kg. Kemungkinan menurut tim, beras tersebut oplosan sehingga bisa dijual murah," katanya.

Dihubungi terpisah, Vice President Corporate Secretary PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) Syailendra mengatakan, beras tersebut bukanlah beras perusahaan.

"Bukan, itu pun mungkin kelihatannya sudah ditemukan juga dari mana, cuma saya nggak bisa nyebut," katanya.

Sementara, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementan Ali Jamil pernah mengatakan, pihaknya memang menerima data impor beras dari Vietnam dan Thailand yang surat izin impornya (SPI) terbit pada 15 Oktober 2020 lalu. Dalam data Kementan, impor itu diajukan oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia(Persero) atau PT PPI.

"Kami sampaikan kronologis masuknya beras dari Vietnam. Jadi yang pertama itu kami bisa melihat di sini, SPI-nya kepada BUMN itu diterbitkan 15 Oktober 2020. Itu PPI dari Thailand dan Vietnam," ungkap Ali dalam RDP dengan Komisi IV, Selasa (19/1/2021).

Selain itu, data yang masuk ke Barantan jenis beras yang diimpor berbeda dengan yang rembes, yakni beras khusus jenis japonica (japonica rice) sebanyak 800 ton.

"Kemarin kita juga sudah periksa barangnya dan dokumen kesehatannya, dilengkapi sertifikat, prior notice, dan seluruhnya. Di PC-nya (Phytosanitary Certificate) itu adalah Vietnam Japonica. Dan kami punya fotonya semua adalah japonica. Jadi sementara itu yang kami sampaikan," sambung Ali.

(acd/dna)