DPR Wanti-wanti Kementerian Impor, Mendag Langsung Buka Suara

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 03 Feb 2021 20:35 WIB
Muhammad Lutfi Komisaris Utama Medco Energi
Foto: Ardan Adhi Chandra: Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi
Jakarta -

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menghadiri rapat kerja (raker) dengan Komisi VI DPR RI. Dalam rapat itu, sejumlah anggota Komisi VI mengingatkan soal impor yang harus dikendalikan, agar neraca dagang tak defisit.

Hal itu pertama dilontarkan oleh Anggota Komisi VI DPR RI Darmadi Durianto dari fraksi PDIP. Ia bahkan mewanti-wanti Kemendag jangan menjadi kementerian impor.

"Gagasan besar apa yang Bapak bawa ke sini menjadi Mendag? Mengingat waktu Bapak juga nggak lama, karena sudah tersita 1 tahun dari menteri sebelumnya. Nah gagasan besar ini penting bagi kami, apa breakthrough-nya? Tahun 2024 sudah tahun politik. Nanti bicaranya selalu defisit impor, ekspor, ngurusnya banyak impornya. Banyak mengatakan bahwa ini kementerian impor, dan sebagainya," kata Darmadi dalam raker tersebut, Rabu (3/2/2021).

Tak hanya Darmadi, Anggota Komisi VI DPR RI Nevi Zuariana dari fraksi PKS juga meminta Lutfi untuk mengendalikan impor. Ia meminta, program Kemendag dalam menjaga stabilisasi harga pangan yang berindikasi pada inflasi tak hanya mengandalkan impor. Ia juga mempertanyakan koordinasi Kemendag dengan Kementan, terutama dalam hal penetapan impor pangan yang harus disesuaikan dengan data kebutuhan dalam negeri.

"Jangan sampai keluar untuk menjaga inflasi, stabilisasi harga kebutuhan pokok, tapi impor. Kami juga ingin tahu bagaimana komunikasi bapak dengan Kementerian Pertanian?" ujarnya.

Ia meminta kepada Lutfi untuk mengedepankan ekspor dan menjaga neraca perdagangan tetap surplus.

"Pada tahun 2020 neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$ 21 miliar. Tapi surplusnya itu karena ada penurunan impor yang sangat tajam, 17,34%, jadi bukan meningkatnya kinerja. Kalau Kemendag kita sudah sepakat bagaimana mengejar surplus, ekspor sebanyak-banyaknya. Itu yang kita harapkan. Terkait impor, selama ini kita masih bisa memenuhi dari produksi dari dalam negeri. Kenapa harus impor? Apalagi bahan pangan. Kita tidak perlu impor ugal-ugalan untuk produksi yang kita bisa lakukan sendiri," jelas Nevi.

Menjawab itu, Mendag Lutfi menegaskan akan selalu berkoordinasi dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo atas keputusan apapun yang dikeluarkan, terutama yang berkaitan dengan Kementan.

"Saya berjanji saya akan kerja sama dengan seluruh kementerian lain. Jadi kalau saya sama Mentan ini akan menjadi tupoksi pertama, kalau saya sampai tidak cocok sama beliau, misal kita udah punya perjanjian. Saya pokoknya menghadap beliau 1-2 minggu sekali, saya akan pergi ke kantornya untuk pastikan bahwa apa yg saya kerjakan itu sesuai setara. Paling tidak sepengetahuan beliau apa yang akan kami kerjakan," ungkap Lutfi.

Kemudian, terkait ketersediaan stok pangan di pasar, dan juga stabilisasi harga, Lutfi berjanji dirinya akan terus memantau pergerakan di pasar.

"Kenapa saya analogikan Mendag ini sama seperti wasit tinju? Wasit tinju itu ada smart spell-nya. Artinya penjual sama pembeli itu mereka berinteraksi. Ketika saya wasit menjalankan seluruh kekuasaannya untuk atur pertandingan, pertandingan itu tidak seru karena penjual dan pedagang itu boxing-nya tidak jalan. Tetapi kalau saya diamkan, ketika wasit mendiamkan mereka bertarung tanpa aturan jelas akan berlangsung liar dan itu juga mesti kita jaga," ujar Lutfi.

Khususnya untuk impor, ia memastikan apa yang dilakukan adalah impor yang berkualitas. Menurutnya, jika impor ditutup pun akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam hal ini, ia mengatakan impor yang dilakukan itu diutamakan untuk mendorong industrialisasi, dan menjadi penyokong ekspor.

"Kalau sekarang kita tahan impornya, karena impor yang berkualitas itu penting untuk pertumbuhan konsumsi kita, maka PDB (produk domestik bruto) kita akan turun. Jadi impor berkualitas itu sangat penting Bu Nevi. Dan itu sekarang PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto) sekarang turun jadi 31% dari 33%. Belanja pemerintah mestinya tidak lebih dari 4%, hari ini hampir 10% dan ekspor impor tahun lalu minus, makanya komposisinya begitu," tegas Lutfi.

Lutfi menegaskan, langkah pemerintah saat ini adalah melakukan transformasi ekonomi untuk menggapai cita-cita Indonesia jadi negara dengan perekonomian ke-5 terbesar di dunia. Namun, untuk mewujudkan itu diperlukannya kenaikan porsi ekspor-impor terhadap PDB.

"Bagaimana komposisi yang sehat? Ekspor-impor itu mesti di atas 50%. Siapa yang sehat seperti itu? Vietnam yang merdekanya di belakang kita, sudah melampaui itu. Nah kita mesti mentransformasi dari yang sekarang konsumsi, menjadi ekspor-impor, dan industrialisasi, investasi. Ini semua 1 sequence, jadi orang datang, buka pasar dulu, menjadi tujuan investasi, dan tujuan investasi, masuk industrialisasi, dan penguatan untuk ekspor," pungkas Mendag.

(vdl/hns)