Tekor Rp 128 T, Maskapai Inggris Minta Larangan Perjalanan Dicabut

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 26 Feb 2021 23:11 WIB
Boeing 747 British Airways
Foto: Getty Images/JohnnyPowell
Jakarta -

Maskapai Inggris, British Airways rugi US$ 9 miliar tahun lalu imbas pandemi COVID-19. Kerugian US$ 9 miliar yang diderita British Airways setara Rp 128,7 triliun (kurs Rp 14.300 per dolar AS).

Pemilik maskapai tersebut, International Airlines Group (IAG) mengandalkan tiket kesehatan digital (digital health passes) untuk membantu memacu pemulihan perjalanan angkutan udara.

Melansir Reuters, Jumat (26/2/2021), pembatasan perjalanan yang lebih ketat selama dua bulan terakhir mengancam akan merusak musim panas di Eropa. Analis memperkirakan itu akan membuat beberapa maskapai penerbangan membutuhkan lebih banyak dana.

Tetapi setelah mengambil pinjaman baru, IAG mengatakan memiliki likuiditas 10,3 miliar euro dan siap untuk mengatasi krisis.

"Kami memiliki likuiditas yang sangat kuat memasuki tahun 2021 ... jadi tidak, kami tidak akan membutuhkan dana tambahan," kata kepala keuangan Steve Gunning kepada wartawan melalui telepon.

Maskapai penerbangan Eropa berharap pembatasan perjalanan akan segera dilonggarkan untuk memungkinkan mereka menghasilkan uang lagi. Inggris pada hari Senin memaparkan rencana untuk membuka kembali izin perjalanan mulai pertengahan Mei. Itu dapat memicu banjirnya pemesanan tiket pesawat.

Kepala eksekutif IAG Luis Gallego mengatakan jika rencana Inggris terus berjalan, itu akan menjadi musim panas yang positif, tetapi tiket kesehatan digital diperlukan untuk membuka kunci pasar.

"Tiket kesehatan akan menjadi kunci untuk memulai kembali penerbangan dan perjalanan," kata Gallego, yang enam bulan terus menyerukan sistem digital yang dapat mencakup hasil tes COVID-19 dan bukti vaksinasi.

Beberapa negara sedang mempertimbangkan paspor kesehatan untuk membantu menghidupkan kembali perjalanan, tetapi khawatir tentang risiko kebebasan sipil.

Namun, bandara Heathrow Inggris memperingatkan minggu ini bahwa menangani kenaikan penumpang yang besar tidak akan mungkin dilakukan dengan pemeriksaan berbasis kertas pada saat ini.

Saham IAG pun naik 4% dalam perdagangan pagi. Nilainya telah melonjak 13% dalam lima hari terakhir setelah Inggris mengumumkan akan memulai kembali perjalanan, tetapi selama 12 bulan terakhir telah kehilangan setengah nilainya.

(toy/hns)