Harga Emas Antam Turun Terus, Gara-gara Apa Sih?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Minggu, 28 Feb 2021 07:16 WIB
Petugas menunjukan emas imitasi di gerai Antam di kawasan Jakarta Pusat, Senin (18/1/2021). Hari ini saham ANTM turun cukup dalam hingga 6,73%.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Harga emas batangan Antam kemarin telah menyentuh level terendahnya sejak pertengahan 2020. Berdasarkan informasi dari situs perdagangan Logam Mulia, harga emas Antam kemarin menyentuh Rp 917.000/gram, atau turun Rp 5.000 dari harga pada hari Jumat, (26/2) yang masih di level Rp 922.000/gram.

Pada pertengahan 2020 lalu, atau tepatnya 7 Agustus 2020 harga emas Antam pecahan 1 gram pernah menembus rekor tertinggi sepanjang masa yakni Rp 1.065.000. Jika harga emas batangan Antam pada perdagangan kemarin dibandingkan dengan harga pada rekor tertingginya itu, maka sudah anjlok Rp 148.000 atau turun 13,89%.

Sementara, harga buyback atau pembelian kembali emas Antam kemarin merosot Rp 8.000 ke level Rp 794.000/gram. Harga buyback ini berarti, jika Anda ingin menjual emas, maka Antam akan membelinya dengan harga tersebut.

Lantas, kenapa sih harga emas Antam turun terus?

Penyebab dari anjloknya harga emas Antam terus-menerus karena adanya sentimen negatif terhadap emas yang berasal dari kekhawatiran akan inflasi yang tinggi.

"Ini kan karena inflasi tinggi, sehingga menyebabkan imbal hasil treasury di AS mengalami kenaikan. Lalu di sisi lain juga vaksinasi di berbagai negara terus berlanjut," kata Direktur TFRX Garuda Berjangka Ibrahim saat dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.

Emas sendiri sempat melonjak harganya dikarenakan investor melihatnya sebagai aset aman atau safe haven, di kala pasar mengalami ketidakpastian akibat pandemi. Namun, saat ini sejumlah negara sudah memulai vaksinasi virus Corona (COVID-19), sehingga muncullah sentimen positif akan pemulihan ekonomi global.

Oleh sebab itu, investor beralih dari investasi emas ke instrumen di pasar seperti saham, obligasi, dan sebagainya. Ekspektasi investor terhadap pasar pun semakin membaik. Maka dari itu, Ibrahim menilai, wajar harga emas turun ketika investor optimistis akan adanya pemulihan ekonomi global.

Terlebih lagi, Amerika Serikat (AS) berencana melakukan vaksinasi COVID-19 terhadap sekitar 200 juta penduduk. Angka itu jauh lebih besar dibandingkan dengan Inggris yang hanya melakukan vaksinasi terhadap 15 juta penduduk.

"Vaksin di Inggris saja sudah mempengaruhi harga emas. Apalagi kalau AS sudah lakukan vaksinasi 200 juta penduduknya. Ini akan memberikan sentimen negatif ke harga emas," jelas Ibrahim.

Berbeda, Kepala Strategi Lintas Aset untuk Morgan Stanley Andrew Sheets mengatakan, walaupun inflasi diperkirakan akan naik pada tahun ini, itu tidak akan cukup untuk mendukung harga emas.

"Ekonom Morgan Stanley memperkirakan inflasi AS akan naik sedikit di atas 2% selama dua tahun ke depan. Jadi ini bukan jenis skenario pelarian untuk inflasi yang tampaknya paling cocok untuk emas," ujarnya seperti dilansir dari situs web Kitco.

(vdl/zlf)