Kronologi Rencana Impor Beras hingga Ditahan Jokowi sampai Juni

Soraya Novika - detikFinance
Sabtu, 27 Mar 2021 13:30 WIB
Presiden Jokowi
Presiden Joko Widodo (Jokowi)/Foto: Biro Pers Setpres
Jakarta -

Perdebatan terkait impor beras 1 juta ton mereda setelah setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan tidak akan ada beras impor yang masuk ke Indonesia sampai Juni 2021.

Sebelum itu, berbagai pihak saling adu pandangan terkait impor 1 juta ton beras. Bahkan, yang bikin semakin memanas beda pendapat soal urgensi impor beras berasal dari sesama instansi di pemerintahan itu sendiri.

Berikut kronologi rencana impor beras sampai akhirnya Jokowi buka suara:

4 Maret 2021

Rencana impor 1 juta ton beras awalnya tampak dalam bahan paparan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Demi menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas pangan dalam negeri di tengah pandemi, untuk itu perlu dilakukan upaya impor beras hingga 1 juta ton. Impor 1 juta ton beras itu dibagi menjadi dua, 500 ribu ton sebagai cadangan beras pemerintah (CBP) dan 500 ribu ton lainnya sesuai kebutuhan Bulog.

Dalam paparannya di rapat kerja Kementerian Perdagangan, Airlangga menyebut, setiap tahunnya stok beras di Bulog harus terjaga di kisaran 1-1,5 juta ton. Untuk itu, perlu tambahan beras impor, sebab penyerapan gabah oleh Bulog belum tentu bisa mencapai targetnya meski saat ini masih memasuki masa panen raya. Adapun target penyerapan gabah oleh Bulog itu setara beras 900 ribu ton saat panen raya Maret sampai dengan Mei 2021 dan 500 ribu ton pada Juni sampai dengan September 2021.

"Komoditas pangan jadi penting, penyediaan beras 1-1,5 ton," kata Airlangga dalam paparannya, Kamis (4/3/2021).

Hal serupa disampaikan juga oleh Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi. Menurut Lutfi, Impor beras ini akan digunakan sebagai iron stock atau barang yang disimpan di Bulog sebagai cadangan dan selalu ada.

"Jadi tidak bisa dipengaruhi panen atau apapun karena ini dipakai untuk iron stock, sudah disepakati dan diperintahkan. Waktu, tempat, dan harga ada di tangan saya," jelasnya.

8 Maret 2021

Beberapa hari kemudian, para pengusaha beras dalam negeri langsung angkat suara. Menurut Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso masa panen raya kali ini bisa membuat stok beras melimpah, potensinya hingga 14 juta ton. Bila ditambah impor beras, harga gabah dan beras di daerah bisa turun sejalan dengan masa panen raya.

"Berdasarkan data-data kan 2 bulan ke depan ini ada panen raya yang akan mencapai lebih dari 14 juta ton selama Januari-April ini. Nah itu berarti akan ada surplus kira-kira sekitar 4 juta ton dalam 2 bulan ke depan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (8/3/2021).

Untuk itu, ia berharap pemerintah justru melakukan penyerapan gabah dan beras yang sekarang ini sedang banyak-banyaknya sehingga pasarnya terjamin. Sebab, saat ini saja di beberapa daerah, harga gabah dan beras lokal sudah ditawar di bawah Rp 4.000, dampaknya petani yang tidak menikmati hasil.

15 Maret 2021

Tak lama dari itu, Komisi IV DPR RI langsung mengundang Kementerian Pertanian bersama Perum Bulog untuk membahas masalah stok pangan jelang Ramadhan dan Lebaran 2021. Salah satu yang dibahas tentunya soal stok beras.

Dalam rapat itu, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso atau yang akrab disapa Buwas menyebut pihaknya kemungkinan tak perlu mengimpor 1 juta ton beras yang sebelumnya ditugaskan pemerintah. Sebab, senada dengan para pengusaha beras lokal, masa panen raya kali ini diyakini bisa mencukupi stok beras dalam negeri dalam setahun.

Menurut Buwas, untuk tahun ini, tidak terjadi kemunduran masa panen raya seperti tahun lalu. Masa panen tahun ini terjadi pada Maret-April, sehingga estimasinya, Bulog dapat menyerap sebanyak 390.800 ton beras CBP.

Sejauh ini saja, stok beras Bulog sudah mencapai 883.585 ton yang terdiri dari beras CBP sebanyak 859.877 ton dan beras komersial sebanyak 23.708 ton. Artinya, setelah panen raya, stok CBP Bulog pada akhir April di atas 1 juta ton beras dan jumlah itu sudah memenuhi CBP per tahun, sehingga tidak diperlukan lagi impor beras.

"Prinsipnya kami mengutamakan produksi dalam negeri untuk CBP walaupun kami mendapatkan tugas impor (beras) 1 juta itu belum tentu kami laksanakan karena kami tetap prioritaskan produksi dalam negeri yang puncaknya Maret-April," ujar Buwas dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI, Senin (15/3/2021).

Buwas merinci, Bulog masih memiliki stok beras impor dari 2018. Adapun dari total pengadaan sebanyak 1.785.450 ton beras, masih tersisa 275.811 ton beras belum tersalurkan. Dari jumlah tersebut, 106.642 ton diantaranya merupakan beras turun mutu.

Dari situlah perdebatan soal impor beras 1 juta ton mulai memanas. Cek halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3