3 Fakta Ekonomi China Meroket 18%

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 16 Apr 2021 18:30 WIB
SHANGHAI, CHINA - MAY 11:  (CHINA OUT) A CRH high-speed train leaves Shanghai Hongqiao Railway Station during its test run on May 11, 2011 in Shanghai, China. After 3 years construction, from April in 2008, with total investment estimated at 220.9 billion yuan (around 32.5 billion U.S. dollars), the Beijing-Shanghai high-speed railway begins a one-month trial operation. It is expected to start operation in June this year, with the travel time between the two cities reducing to five hours from the previous 10.
Ilustrasi/Foto: Getty Images
Jakarta -

China baru saja mencetak rekor pada pertumbuhan ekonominya. Hari ini Negeri Tirai Bambu melaporkan ekonominya tumbuh 18,3% pada kuartal I-2021 dibandingkan tahun lalu. Laporan itu disampaikan oleh statistik pemerintah China.

Berikut 3 fakta ekonomi China yang meroket di tengah pandemi COVID-19:

1. Terbaik dalam 30 Tahun

Hari ini ekonomi terbesar kedua di dunia itu mengungkap ekonominya tumbuh 18,3% pada kuartal I-2021. Pertumbuhan kuartalan itu menjadi yang terbaik sejak 1992 atau dalam 30 tahun, ketika China mulai menerbitkan angka-angka pertumbuhan ekonominya.

Dalam laporan statistik pemerintah China, ekonomi negara itu tercatat terus menguat meski tahun lalu ekonomi negara itu sempat ditutup untuk menahan penularan kasus COVID-19.

2. Satu-satunya Negara yang Tumbuh

China juga disebut-sebut sebagai satu-satunya ekonomi besar yang mencatat pertumbuhan pada tahun 2020, pertumbuhannya 2,3% di saat banyak negara berjuang untuk menahan pandemi COVID-19. Otoritas China menyebut kinerja tahun lalu lebih baik dari perkirakan.

Pada kuartal I-2020 saja ekonomi China tercatat bertumbuh 0,6%, dan kuartal IV-2020 ekonominya naik lagi ke 6,5%. Semua angka pertumbuhan itu menunjukkan pemulihan ekonomi China terus menguat. China juga disebut telah berkinerja baik dibandingkan dengan negara lain di dunia.

3. Kinerja Meningkat

Lonjakan ekonomi China terjadi setelah kontraksi pada kuartal I-2020 ketika ekonomi menyusut 6,8% selama puncak pandemi COVID-19. China adalah negara pertama yang menangani pandemi, dan ekonominya kembali tumbuh pada kuartal kedua tahun lalu.

Pertumbuhan ekonomi China didorong oleh berbagai sektor. Penjualan ritel naik 34,2% di bulan Maret 2020, melampaui ekspektasi pertumbuhan 28%. Produksi industri juga naik 14,1%, namun di bawah prediksi Reuters sebesar 17,2%.

Tingkat pengangguran yang disurvei perkotaan tercatat lebih rendah pada bulan Maret menjadi 5,3%, tetapi data menunjukkan pekerja termuda China berusia 16 hingga 24 tahun tetap tinggi 13,6%.

Namun, di sisi lain saat ini statistik bea cukai China menunjukkan impor China melonjak lebih dari 38% bulan lalu dalam dolar AS dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Laporan itu menjadi bukti permintaan di China meningkat. Sementara ekspor China tumbuh hampir 31%.

(ara/ara)