Tekor Neraca Dagang RI Sama China Menurun, Ini Penjelasan Mendag

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 16 Apr 2021 20:15 WIB
Neraca Dagang Era Jokowi
Foto: Tim Infografis/Denny Putra
Jakarta -

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengungkapkan defisit atau tekor neraca perdagangan Indonesia mengalami penurunan signifikan di Maret 2021. Hal tersebut menyusul tingginya nilai ekspor di bulan ketiga tahun ini.

Lutfi menyebut, defisit neraca perdagangan Indonesia dengan China mencapai US$ 160 juta di Maret 2021. Di bulan sebelumnya defisit tercatat sebesar US$ 830 juta dan pada Maret 2020 tercatat sebesar US$ 940 juta.

"Kalau kita lihat trade balance-nya meskipun masih minus tapi kalau kita lihat secara gambling defisitnya itu sudah mengalami perbaikan yang luar biasa," kata Lutfi dalam video conference, Jumat (16/4/2021).

BPS mencatat nilai ekspor Indonesia sebesar US$ 18,35 miliar di Maret 2021. Angka tersebut naik 20,31% dibandingkan Februari dan tumbuh 20,47% dibandingkan Maret 2020.

Lutfi mengatakan dari data tersebut tercatat produk besi dan baja menjadi salah satu produk industri dalam negeri yang tumbuh sangat tinggi, yaitu 13,91% dari US$ 1,23 miliar menjadi US$ 1,40 miliar di Maret 2021. Sementara angka kumulatifnya, dari Januari-Maret tercatat US$ 3,46 miliar ke seluruh negara mitra dagang tanah air. Atau tumbuh 60,67% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2020.

"Penjualan besi dan produk besi baja tumbuh lebih dari 40% membuat penurunan defisit yang sangat tinggi," ungkapnya.

Selama Maret 2021, neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 1,57 miliar. Hal itu dikarenakan nilai ekspor US$ 18,35 miliar atau lebih tinggi dibandingkan impor yang senilai US$ 16,79 miliar.

Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia juga surplus US$ 5,52 miliar. Di mana nilai ekspor selama tiga bulan pertama berjumlah US$ 48,90 miliar dan impornya hanya US$ 43,38 miliar.

Sebelumnya, anggota Komisi XI, Kamrussamad menilai surplus neraca perdagangan Indonesia di Maret 2021 harus tetap diwaspadai oleh pemerintah. Menurut dia, pertumbuhan volume perdagangan masih rendah dibandingkan nilai komoditasnya. Dengan begitu, terjadi kenaikan harga di tingkat produsen.

"Dengan mengikuti tren yang terjadi, kegiatan ekspor dan impor mengalami peningkatan yang signifikan pada periode menjelang ramadhan dan hari raya Idul Fitri yang dikhawatirkan adanya libur panjang sehingga industri mengirim muatan hasil produksinya terlebih dahulu," kata Kamrussamad.

Selain itu, dia mencatat peningkatan ekspor juga dikarenakan pemulihan ekonomi negara mitra yang cepat. Hal tersebut harus diatasi oleh pemerintah dengan melebarkan pasar ke negara non tradisional.

Pada Maret 2021, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus dengan Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 1,33 miliar, Filipina sebesar US$ 592,1 juta, dan India sebesar US$ 502,4 juta.

"Peningkatan ekspor Januari-Februari 2021 ke beberapa negara kawasan Asia Pasifik menunjukkan pentingnya Kawasan tersebut bagi Indonesia," katanya.

"Pembukaan market akses melalui kerja sama perundingan perdagangan internasional khususnya di negara kawasan Asia Pasifik seperti Indonesia-Australia CEPA yang telah diimplementasikan pada Juni 2020 serta Indonesia-Korea CEPA yang baru saja ditandatangani Desember tahun lalu memegang peranan penting bagi perluasan pasar ekspor Indonesia," tambahnya.



Simak Video "Ada Corona, Mendag Sebut Neraca Dagang Surplus USD 13,5 Miliar"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/dna)