Elon Musk 'Diguyur' Rp 42 T dari NASA buat Bangun Roket

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 17 Apr 2021 13:06 WIB
Elon Musk founder, CEO, and chief engineer/designer of SpaceX speaks during a news conference after a Falcon 9 SpaceX rocket test flight to demonstrate the capsules emergency escape system at the Kennedy Space Center in Cape Canaveral, Fla., Sunday, Jan. 19, 2020. (AP Photo/John Raoux)
Foto: AP
Jakarta -

Perusahaan milik Elon Musk, SpaceX mendapatkan kontrak senilai US$ 2,9 miliar atau setara dengan Rp 42,3 triliun (kurs Rp 14.600/US$) dari NASA. Dikutip dari Reuters, kontrak ini untuk pembangunan pesawat ruang angkasa pengangkut astronot ke bulan tahun 2024 mendatang.

Kontrak ini merupakan proyek pertama untuk pendaratan manusia secara komersial. Pejabat Administrator NASA Steve Jurczyk mengungkapkan proyek ini harus segera diselesaikan dalam waktu cepat.

"Kami harus menyelesaikan pendaratan berikutnya secepat mungkin. Kami punya kesempatan pada 2024," kata dia dikutip dari Reuters, Sabtu (17/4/2021).

NASA menyebut SpaceX's Starship ini akan memiliki kabin yang luas untuk astronot yang menumpanginya. SpaceX juga menanggapi di Twitter terkait kerja sama tersebut.

"Dengan rendah hati kami siap membantu @NASAArtemis untuk menyongsong era baru eksplorasi ruang angkasa oleh manusia," tulisnya.

Pendaratan manusia di permukaan bulan ini tak akan sama dengan pendaratan Apollo tahun 1969 sampai 1972. NASA menyiapkan proyek pendaratan berikutnya sebagai batu loncatan proyek pengiriman astronot ke Mars.

SpaceX juga akan diminta untuk melakukan uji terbang dan pendaratan ke bulan sebelum ada manusia yang menjadi penumpangnya. Pengumuman tersebut memberikan dampak signifikan untuk Tesla. Tesla menjadi produsen mobil paling bernilai di dunia dengan nilai kapitalisasi pasar US$ 702 miliar.

Musk telah menjadi konglomerat dari perusahaan teknologi yang memiliki proyek di penerbangan luar angkasa, mobil listrik hingga terowongan bawah tanah.

NASA menyebut pemilihan SpaceX ini karena perusahaan Musk itu memiliki nilai positif di mata pemerintah AS.

(kil/eds)