AS Gandeng Jepang Lawan China, Ini Plus-minus Buat Indonesia

Trio Hamdani - detikFinance
Minggu, 18 Apr 2021 19:55 WIB
FILE - In this Sept. 25, 2015, file photo, a military honor guard await the arrival of Chinese President Xi Jinping for a state arrival ceremony at the White House in Washington. China on Tuesday, Dec. 8, 2020, lashed out at the U.S. over new sanctions against Chinese officials and the sale of more military equipment to Taiwan. (AP Photo/Andrew Harnik, File)
Foto: AP Photo/Andrew Harnik, File
Jakarta -

Perekonomian Indonesia bisa terdampak atas ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat bersama Jepang yang kelihatannya ingin melawan kekuatan China. Baru-baru ini, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga.

Pertemuan kedua pemimpin negara itu bisa saja membuat China meradang. Tentunya ketegangan yang terjadi antar kekuatan ekonomi terbesar di dunia itu dapat memengaruhi Indonesia.

"Karena sekarang Jepang ikut campur dalam dinamika politik ini, dampak ke Indonesianya bisa saja menjadi lebih besar karena kita tahu bahwa ketiga negara ini adalah partner dagang utama terbesar Indonesia," kata peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet kepada detikcom Minggu (18/4/2021).

Adanya dinamika politik antara ketiga negara itu dikhawatirkan justru akan berpengaruh terhadap proses perbaikan kinerja perdagangan RI, secara tidak langsung juga akan mempengaruhi perekonomian di dalam negeri.

"Karena beberapa pos di penerimaan negara itu tergantung dari kinerja perdagangan seperti misalnya bea keluar, kemudian penerimaan negara bukan pajak untuk non-migas," lanjutnya.

Namun, dibalik sebuah masalah tentu ada peluang yang dapat diambil oleh Indonesia. Misalnya saja seperti perang dagang yang terjadi beberapa tahun lalu antara AS dan China, di mana banyak perusahaan asing yang merelokasi atau memindahkan pabriknya dari China.

"Tentu ada sentimen-sentimen yang kemudian bisa mempengaruhi misalnya berpindahnya/relokasi (pabrik) dari China ke negara-negara lain, dan peluang yang sama juga saya kira bisa diambil dari kondisi ini," tambahnya.

Sementara itu, ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira berpendapat ketegangan antara China dengan AS dan Jepang berpeluang meningkatkan ekspor Indonesia.

"Indonesia bisa mengambil posisi strategis. Jadi di satu sisi juga meningkatkan kinerja ekspor ke China tapi di sisi yang lain juga Indonesia bisa mempengaruhi blok-blok selain China, yaitu Amerika Serikat dan Jepang sehingga pasarnya bisa lebih terbuka kepada produk-produk dari Indonesia," paparnya.

Jika ketegangan AS dan China dapat berlanjut, bukan tidak mungkin kedua negara akan membuat kebijakan yang dapat menguntungkan Indonesia, misalnya saja memberikan insentif bea masuk terhadap produk Indonesia.

"Nanti tinggal bagaimana China, kemudian Amerika Serikat justru bersaing untuk memberikan bea masuk yang lebih rendah barang-barang dari Indonesia, karena dianggap Indonesia ini adalah battle ground dari perebutan strategis geopolitik dan perdagangan internasional juga," tambah Bhima.



Simak Video "Trump Ogah Bahas Perdagangan dengan China Gegara Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/dna)