Belanja 2022 Diprediksi Rp 2.700 T, Sri Mulyani: Bukan untuk Bangun Gedung

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 29 Apr 2021 14:59 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Belanja negara pada postur APBN 2022 diprediksi ada di kisaran 14,69-15,29% dari produk domestik bruto (PDB), atau Rp 2.631,8-2.775,3 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, belanja negara akan diprioritaskan untuk transformasi ekonomi, bukan untuk membangun gedung-gedung atau membeli kendaraan dinas.

"Untuk belanja- belanja yang non prioritas baik di pusat maupun di daerah dengan penajaman belanja barang, belanja modal terutama untuk transformasi ekonomi, bukan untuk pembangunan gedung-gedung dan kendaraan dinas," kata Sri Mulyani dalam rapat koordinasi pembangunan pusat Kementerian PPN/Bappenas yang digelar virtual, Kamis (29/4/2021).

Adapun belanja negara itu berasal dari target belanja pemerintah pusat yang ditargetkan sebesar 10,36-10,63% dari PDB, atau sebesar Rp 1.856-1.929,9 triliun, dan transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) sebesar 4,33-466% dari PDB, atau Rp 775,8-845,3 triliun.

Ia menegaskan, belanja negara itu akan difokuskan untuk mewujudkan transformasi ekonomi dengan membangun infrastruktur strategis, dan belanja untuk membantu masyarakat.

"Tapi untuk infrastruktur, dan penajaman belanja yang diarahkan untuk membantu masyarakat," tegas mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut.

Sri Mulyani mengatakan, anggaran untuk belanja pemerintah akan terus dilakukan efisiensi. Dengan demikian, belanja kementerian/lembaga (K/L) akan terus dikendalikan.

"Belanja K/L 2022 akan kita kendalikan dalam beberapa hal, dan tentu ini di dalam rangka untuk terus memperbaiki kinerja dan efisiensi birokrasi belanja," ujarnya.

Harapannya, belanja negara dalam postur APBN tahun 2022 tersebut akan menjadi alat penyeimbang otomatis terhadap perekonomian Indonesia dalam kondisi-kondisi tertentu.

"Kita akan terus merancang belanja itu menjadi komponen automatic stabilizer. Artinya waktu ekonomi menekan masyarakat kita membantu, waktu ekonomi membaik maka APBN akan menurun, sehingga APBN tetap fleksibel dan relatif bisa dijaga keberlangsungan dan kesehatannya," tutup dia.

Simak juga video 'Sri Mulyani: Kondisi Ekonomi Dunia 2020 Terburuk dalam 150 Tahun':

[Gambas:Video 20detik]



(vdl/zlf)

Tag Terpopuler