100 Hari Kerja Joe Biden: Pasar Saham Terkuat Sejak 1961

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 30 Apr 2021 09:08 WIB
President Joe Biden speaks about the shooting in Boulder, Colo., Tuesday, March 23, 2021, in the State Dining Room of the White House in Washington. (AP Photo/Patrick Semansky)
Foto: AP/Patrick Semansky
Jakarta -

Hari ini menjadi 100 hari kerja Joe Biden jadi Presiden Amerika Serikat (AS). Di 100 hari kerja Joe Biden, indeks saham S&P 500 tercatat melonjak 8,6% sejak penutupan saat berakhir kepresidenan Donald Trump, 20 Januari lalu.

Menurut CFRA Research angka itu menjadi yang terkuat untuk 100 hari kinerja presiden baru sejak era John F Kennedy pada 1961. Selain itu, melampaui reli pada era Barack Obama yang tercatat naik di atas 8,4%. Bahkan jauh dari era Trump yang diketahui naik hanya 5%.

Selama 100 hari kerja, Joe Biden mendapat banyak pujian dan juga kesalahan. Meski demikian, pencapaian bersejarah pada kinerja pasar saham di awal era Biden menambah rasa optimisme tentang pemulihan ekonomi AS dari pandemi COVID-19.

"Jika pasar saham merupakan indikasi, Wall Street tampaknya menyetujui upaya Presiden Biden untuk menahan krisis COVID-19 dan merangsang ekonomi," Kepala Strategi Investasi CFRA, Sam Stovall, dikutip dari CNN, Jumat (30/4/2021).

Antara Agustus dan Oktober lalu saja, Trump mengirim enam tweet yang mengatakan pasar akan langsung "ambruk" jika Joe Biden terpilih. Namun, hingga kini apa yang dikatakan Trump tidak terjadi.

"Saya tidak yakin presiden bisa menjadi analis pasar yang sangat baik, bukan hanya Trump," kata Wakil Presiden Perdagangan dan Derivatif di Charles Schwab, Randy Frederick.

Sebenarnya, pasar saham AS pulih dari pandemi jauh sebelum pemilihan. Hal itu karena didorong oleh dukungan dari Federal Reserve pada era Trump.

Berjalannya waktu, Wall Street menyambut baik pengumuman terobosan vaksin pada November yang membantu indeks saham Dow lebih baik sejak Januari 1987. Saham terus menguat pada 2021 karena peluncuran cepat vaksin yang dipimpin Biden. Hal itu meningkatkan harapan akan ekonomi yang akan cepat pulih.

Stimulus besar dari Joe Biden sejumlah US$ 1,9 triliun juga menjadi pendongkrak pemulihan ekonomi AS. Kemungkinan Kongres AS disebut akan menggelontorkan stimulus baru di akhir 2021.

(fdl/fdl)