Pengusaha Bus Kena Getah Angkutan Gelap Larangan Mudik

Soraya Novika - detikFinance
Rabu, 05 Mei 2021 09:49 WIB
Pengusaha PO Bus di Ciamis memilih menghentikan sebagian operasional karena adanya pembatasan solar subsidi.
Foto: Dadang Hermansyah
Jakarta -

Angkutan travel gelap merajalela menjelang larangan mudik 6-17 Mei 2021. Kehadiran travel gelap ini lantas membawa imbas tersendiri bagi para bus-bus berizin.

"Sangat (kena imbas). Kalau bicara travel gelap itu pasti berpengaruh (kepada bus)," ujar Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan atau yang akrab disapa Sani kepada detikcom, Rabu (5/5/2021).

Imbas yang paling terasa adalah penurunan jumlah penumpang. Akan tetapi, Sani tak merinci lebih jauh seperti apa penurunan penumpang yang dialami oleh para pengusaha bus selama menjelang Lebaran ini.

Ia hanya bisa mengimbau masyarakat agar menghindari bepergian dengan travel gelap. Mengingat, travel gelap tidak menjamin keselamatan penumpangnya dengan asuransi apapun dan ketentuan lainnya yang harus dipenuhi oleh pelaku transportasi darat. Selain itu, dengan menghindari bepergian dengan travel gelap, artinya masyarakat juga membantu pemerintah terkait pengendalian COVID-19.

"Masyarakat harus menghindari angkutan tidak berizin tadi," imbuhnya.

Hal serupa disampaikan oleh Ketua Organisasi Angkutan Darat DKI Jakarta Safruan Sinungan. Ia mendapati kesempatan untuk menarik lebih banyak penumpang di masa-masa seperti sekarang ini jadi lebih sulit karena menjamurnya travel gelap tadi.

"Pasti berpengaruh besar buat kita. Masyarakat ini kan nggak kebendung kalau mau mudik, mereka kan akan melakukan mudik itu sebelum tanggal 6 (Mei). Jadi tanggal 4 dan 5 (Mei) itu yang luar biasa. Tapi ini angkutan ilegal juga sudah bergerak banyak," ungkapnya.

Padahal, di saat-saat menjelang Lebaran ini seharusnya menjadi kesempatan para pengusaha otobus untuk bisa sedikit pulih dari dampak pandemi COVID-19. Akan tetapi, kehadiran travel gelap justru memperlambat proses pemulihan tersebut.

"Besar sekali dampaknya. Justru pada saat momen mudik ini atau momen Lebaran ini, sebenarnya diharapkan oleh pengusaha angkutan apalagi di kondisi yang sangat sulit seperti ini, sebetulnya kan ini angin segar untuk membantu kondisi cashflow perusahaan, tapi karena ada angkutan liar ini, ia terasa penurunan permintaan penumpangnya," tuturnya.

Ia berharap pemerintah bisa memperketat lagi pengawasan terhadap para travel gelap tersebut. Terutama pengawasan di tingkat daerah.

"Mereka (travel gelap) itu kan bisa 24 jam, mereka tahu benar celah-celah jam berapa lowongnya (lowong pengawasan). Dan itu mereka sudah pengalaman tahun lalu begitu, mereka masuk wilayah itu misalnya pas magrib saat orang buka puasa, atau pun tengah malam. Nah itu kan pasti kosong petugas. Kalau mau efektif harusnya ada petugas 24 jam untuk berjaga-jaga," imbaunya.

(eds/eds)

Tag Terpopuler