Perhatian! Yang Mudik Diminta Tunda Balik ke Daerah Asal

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 12 Mei 2021 06:00 WIB
Pemudik sepeda motor terjebak kemacetan saat melintasi posko penyekatan mudik di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (11/5/2021) dini hari. Petugas gabungan memutar balikan ribuan pemudik yang melintasi pos penyekatan perbatasan Bekasi -Karawang, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pras.
Foto: ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah
Jakarta -

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi memprediksi akan terjadi lonjakan pergerakan arus balik ke kota besar dari daerah meskipun larangan mudik telah berlaku. Perkiraannya, lonjakan arus balik terjadi pada H+2 lebaran.

Bila bicara jumlah, Budi Karya menyebut kira-kira ada 3,6 juta orang yang akan melakukan perjalanan pada arus balik. Mengingat hal tersebut, Budi Karya mengimbau masyarakat yang mau melakukan perjalanan arus balik ke kota asalnya diminta menunda waktu kepulangan.

"Ada dua hal yang kami usulkan untuk mengantisipasi potensi lonjakan pada arus balik. Pertama yaitu, mengimbau masyarakat untuk menunda kepulangan supaya tidak bertemu di satu tempat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan penumpukan," ujar Budi Karya dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (12/5/2021)

Selain itu Menhub mengusulkan dilakukan testing COVID-19 yang intensif di berbagai wilayah yang memiliki konsentrasi pemudik besar. Misalnya saja seperti di Madiun, Ngawi, Surabaya, Solo, Jogja, Semarang, Cirebon, Jakarta, hingga Bakauheni.

Menhub juga mengusulkan kepada Menko Perekonomian Airlangga Hartarto selaku Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) serta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk memberikan tes COVID-19 gratis bagi mereka yang melakukan perjalanan melalui darat.

Sementara untuk perjalanan transportasi lain akan diberlakukan pengetatan syarat perjalanan seperti pada masa pra peniadaan mudik.

"Kami mengusulkan kepada Menko Perekonomian dan Menkes untuk memberikan tes COVID-19 gratis bagi mereka yang melakukan perjalanan melalui darat," ungkap Budi Karya.

Mudik sudah dilarang sejak 6 Mei lalu, dan akan terus dilarang sampai 17 Mei mendatang. Meski begitu, masih banyak juga masyarakat yang nekat mudik.

Beberapa kali pihak kepolisian pun harus meloloskan penyekatan mudik karena membludaknya antrean kendaraan di daerah penyekatan.

Bahkan, Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN), Airlangga Hartarto, mengatakan pihaknya telah melakukan tes COVID-19 secara acak kepada lebih dari 6.000 orang di pos penyekatan mudik. Pos penyekatan itu dilakukan oleh Polri di 381 lokasi.

"Jumlah pemudik yang dilakukan random testing, dari 6.742 konfirmasi positif 4.123 orang," jelas Airlangga dalam konferensi pers secara virtual.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.686 di antaranya langsung menjalani isolasi mandiri. Kemudian, kata Airlangga, ada 75 orang yang dirawat di rumah sakit.

Selain itu, Airlangga juga menjelaskan ada sekitar 41.000 kendaraan yang telah ditindak petugas untuk diminta memutar balik ke tempat asal keberangkatan.

"Operasi kendaraan atau Operasi Ketupat jumlah diperiksa kendaraan 113.694, putar balik 41.097, dan pelanggaran travel gelap 306 kendaraan," tutur Airlangga.

(hal/hns)

Tag Terpopuler