DPR Dorong Kementan Tertibkan Data e-RDKK

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 09 Jun 2021 12:17 WIB
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo hadir dalam rapat bersama Komisi IV DPR. Rapat itu membahas program kerja Kementan 5 tahun ke depan.
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Komisi IV DPR RI menggelar rapat dengan Kementerian Pertanian (Kementan) hari ini. Dalam rapat itu, Kementan didorong untuk melakukan penertiban data e-RDKK agar penyaluran pupuk bersubsidi dapat semakin tepat sasaran. Menurut Anggota Komisi IV DPR RI fraksi PDIP Sutrisno, penertiban data tersebut merupakan kunci dari permasalahan penyaluran pupuk bersubsidi. Pasalnya, persoalan pupuk ini dinilai tidak pernah selesai dari tahun ke tahun.

"Direncana anggaran tahun 2022, terdapat anggaran Rp 150 miliar untuk mengupdate e-RDKK, bimtek evaluasi tentang kelompok, serta verifikasi dan validasi e-RDKK. Nah agar masalah pupuk ke depan dapat diselesaikan, kata kuncinya ada pada penertiban e-RDKK," kata dia dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi IV DPR dengan Kementerian Pertanian, Rabu (9/6/2021).

"Kemarin Kepala Badan BPSDMP mengatakan ditiap daerah itu tiap saat melaporkan posisi data. Itu ada ga data e-RDKK yang valid? Di dalam teori statistik itu tidak ada bahwa data yang disampaikan itu otomatis langsung valid. Mesti dikaji benar validitasnya. Karena di situlah kata kunci persoalan yang akan muncul. Pasti ada kurang, ada lebih," tambah dia

Senada, Anggota Komisi IV fraksi PAN Haerudin pun mengkritisi permasalahan data tersebut. Dirinya menyayangkan persoalan data yang tidak valid selalu menjadi permasalahan penyaluran pupuk subsidi. Ia menilai masalah pupuk adalah masalah mekanisme, masalah sistem, masalah proses yang kita buat yang memperumit kita sendiri.

Haerudin menuturkan bahwa pihaknya berkomitmen membahas rinci permasalahan tersebut dalam Rapat Panitia Kerja (Panja) Pupuk sehingga bisa lebih efektif mengevaluasi dan mencarikan solusinya ke depan.

"Apa mungkin kita masih mau keukeuh dengan apa yang hari ini kita terapkan dengan cara memaksakan diri. Karena problem kita sampai hari ini adalah data, tidak ada yang lain," tutupnya.

(aid/fdl)