Sri Mulyani Was-was Ekonomi RI Kepleset Gara-gara Kasus Corona Naik

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 14 Jun 2021 18:00 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hadir dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI. Rapat itu membahas pagu indikatif Kementerian Keuangan dalam RAPBN 2022
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Kasus COVID-19 kembali mengalami peningkatan di Indonesia. Hal ini terlihat dari jumlah keterisian tempat tidur di wisma atlet, Jakarta yang mengalami kenaikan. Tak hanya di Jakarta, kenaikan kasus juga terjadi di berbagai wilayah. Seperti Kudus dan luar pulau Jawa.

Menteri Keuangan Sri Mulyani khawatir dengan peningkatan ini akan memengaruhi kondisi perekonomian nasional. Pasalnya jika terjadi kenaikan dan mengkhawatirkan, maka akan ada pembatasan dan ini akan mempengaruhi permintaan dan mobilitas masyarakat.

Apalagi kenaikan juga terjadi tak hanya di Indonesia namun di Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam dan India. "Mengenai kenaikan kasus COVID-19 kalau dilihat paska-Lebaran memang harus diwaspadai," kata Sri Mulyani di DPR, Senin (14/6/2021).

Dia menyebutkan jika kasus di Tanah Air terus turun maka proyeksi ekonomi 8,3% bisa terjadi. Tapi sebaliknya jika kasus meningkat dan terjadi pembatasan lagi, proyeksi ekonomi bisa berubah.

"Kuartal II antara 7,1% hingga 8,3%. Ini seiring kenaikan COVID-19, sehingga hati-hati terutama proyeksi dari sisi upper bound 8,3%," jelas dia.

Sri Mulyani menambahkan pemulihan ekonomi bisa lebih kuat pada kuartal II. Namun terjadi pada minggu kedua Juni justru terjadi kenaikan kasus. "Namun kalau untuk menurunkan COVID-19 kita harus pembatasan, maka proyeksi kita pasti akan terkoreksi. Ini trade off yang akan terus kita hadapi," jelas dia.

Secara keseluruhan, Sri Mulyani menjelaskan bahwa pemulihan ekonomi sudah terlihat di periode April-Juni tahun ini. Hal ini karena ekonomi di kuartal II 2020 yang mengalami kontraksi cukup dalam, hingga adanya momentum puasa dan Lebaran, yang dinilai akan membuat ekonomi di kuartal II 2021 menjadi lebih tinggi.

Tak hanya itu, sejumlah indikator ekonomi juga mulai menunjukkan kenaikan di periode kuartal kedua tahun ini. Mulai dari indeks keyakinan konsumen, indeks manufaktur, hingga pemakaian listrik yang juga meningkat. Dia berharap, perekonomian pun akan tetap positif pada kuartal II ini.

(kil/fdl)