Dukungan Modal Bank Bantu Kembangkan Bisnis Kerupuk Kulit Khas Minang

Erika Dyah - detikFinance
Senin, 14 Jun 2021 19:08 WIB
pengusaha kerupuk
Foto: BRI
Jakarta -

Bisnis kerupuk kulit dan kerupuk Balado khas Minang yang dimiliki perempuan asal Padang, Sumatera Barat, Zetria terus berkembang dan membuatnya menjadi wirausaha mikro sukses. Ia mengawali usahanya pada 2007 lalu dengan modal Rp 50.000, hingga kini bisa meraup omzet mencapai Rp 200 juta per bulan.

Zetria mengaku kunci dalam meraih keberhasilan dalam merintis usahanya ialah berani berubah dan berinovasi. Ia menceritakan awal mula memulai usahanya pada 2007, yakni saat dirinya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai karyawan swasta dan menyusul sang suami tinggal di Padang.

Perempuan berusia 40 tahun ini mengaku tak menyangka keputusan tersebut justru bisa mengubah nasibnya hingga menjadi pengusaha kerupuk kulit yang sukses. Ia mengungkap modal awal usahanya saat itu hanya Rp 50.000. Modal tersebut digunakannya untuk membeli 15 kg kulit sapi sebagai bahan baku selama sepekan.

Zetria mengatakan secara perlahan produksi kerupuk kulit miliknya semakin meningkat dan berkembang hingga menghasilkan 70 kg kerupuk per hari. Melihat peluang usaha yang prospektif, Zetria memberanikan diri untuk mulai meminjam modal usaha ke BRI pada 2008 silam.

"Saya pinjam pertama kali Rp 30 juta karena membutuhkan modal untuk membeli mobil biar memudahkan transportasi. Alhamdulillah saya sangat terbantu dengan pinjaman modal dari BRI," ungkap Zetria dalam keterangan tertulis, Senin (14/6/2021).

Ia menambahkan, pinjaman modal usahanya terus bertambah seiring dengan perkembangan bisnis dan kelancaran pembayaran. Zetria mengungkap pinjaman modal usaha yang pernah ia dapatkan mencapai Rp 650 juta.

Tak hanya lewat dukungan modal, Zetria mengatakan usahanya terus berkembang berkat keuletan dan kegigihan dalam menjalankan bisnis ini. Ia pun melakukan inovasi dengan membuat variasi produk baru pada 2011 melalui pengembangan produk kerupuk balado khas Minang.

Menurutnya, inovasi ini dibutuhkan agar produk yang didagangkan tidak melulu kerupuk kulit saja. Ia menjelaskan produk olahan kerupuk yang ditekuninya menjadi salah satu oleh-oleh khas Minang yang kini banyak dititipkan di warung-warung kecil, minimarket, serta pusat oleh-oleh di Padang dan daerah sekitarnya.

Zetria mengungkap dalam sehari ia mampu memproduksi hingga 10.000 bungkus kerupuk kulit dan kerupuk Balado. Adapun harga jual kerupuknya bervariasi, mulai dari Rp 1000-an per bungkus hingga Rp 40.000-an per bungkus. Ia mengatakan variasi harga ini bergantung pada kebutuhan pelanggan.

Berdayakan Pekerja Perempuan

Zetria menjelaskan ia mempekerjakan 15 orang dari daerah sekitar tempat tinggalnya untuk membantu menjalankan usaha kerupuk khas Minang yang ia tekuni. Adapun 70% dari jumlah pekerjanya didominasi oleh pekerja perempuan, khususnya untuk kebutuhan pengemasan produk.

Ia memutuskan mempekerjakan para perempuan untuk memberdayakan perempuan yang tidak memiliki pekerjaan di daerah sekitarnya.

"Saya ingin memberdayakan perempuan sekitar seperti janda-janda, atau yang belum menikah makanya pekerja saya didominasi kaum perempuan," tuturnya.

Zetria menjelaskan bahwa para pekerjanya biasa digaji harian dengan nominal yang bervariasi. Ia menambahkan bahwa jumlahnya tergantung dengan kemampuan pekerja dalam mengejar target membungkus kerupuk.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan usahanya tak terlalu terdampak pandemi COVID-19. Sebab menurutnya, produk kerupuk yang ia jual tetap banyak dibutuhkan dan dikonsumsi.

Kendati demikian, ia mengungkap adanya tantangan yang harus ia hadapi dalam menjalankan usaha kerupuk kulit. Zetria mengaku kerap menemui tantangan terkait ketersediaan bahan baku kulit sapi dan mengalami kesulitan ketika bahan baku kulit sapi jarang di pasaran. Kalaupun ada, katanya, kualitasnya kurang sesuai harapan.

Zetria menyebut usaha yang ia jalani bisa menambah penghasilan keluarga, terlebih ia bisa meraup omzet mencapai Rp 200 juta per bulan atau bahkan lebih ketika permintaan sedang ramai. Tak hanya itu, ia mengungkap berkat usahanya ia mampu membeli ruko dan rumah petak sebanyak 12 unit serta 2 unit mobil.

Menurutnya, keberanian dan kreativitas dalam berinovasi serta dukungan dari keluarga dan BRI soal permodalan telah membawa dirinya menikmati kesuksesan dari bisnisnya yang kini terus maju dan berkembang.

(mul/hns)